// <![CDATA[USULAN JUMLAH TEKNISI MAINTENANCE PADA MESIN WINDING MENGGUNAKAN MODEL ANTREAN DENGAN KRITERIA MINIMISASI EKSPEKTASI TOTAL ONGKOS DI PT. NIKKATSU ELECTRIC WORKS]]> HERDIANI GUSTARI / 13.2008.064 Dosen Pembimbing 1 Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T. Dr. Kusmaningrum, Ir., M.T.
Tercapai atau tidaknya target produksi PT. Nikkatsu Electric Works ditentukan oleh sistem produksinya. Salah satu kegiatan yang sangat menunjang dalam sistem produksi adalah kegiatan perawatan mesin-mesin (maintenance). Bila mesin produksi tidak dirawat maka mesin dapat rusak mendadak sehingga produksi terhenti dan hal ini mengakibatkan target produksi tidak tercapai. Oleh karena itu kegiatan perawatan mesin-mesin (maintenance) harus selalu dilakukan dalam suatu sistem produksi. Pada kegiatan perawatan teknisi maintenance harus siap menangani mesin yang rusak agar target produksi dapat tercapai. Seiring dengan berkembangnya pabrik sejenis, maka persaingan dalam memenuhi permintaan konsumen semakin ketat. Bila permintaan konsumen tidak dapat dipenuhi oleh perusahaan maka konsumen akan beralih untuk membeli produk ke perusahaan pesaing. Oleh karena itu PT. Nikkatsu Electric Works selalu berupaya mencapai target produksinya agar dapat memenuhi permintaan konsumen. Namun selama empat tahun kebelakang, PT. Nikkatsu Electric Works mengalami penurunan target produksi produk ballast sebesar 1,13% dan berdasarkan pengamatan yang dilakukan ternyata salah satu penyebab tidak tercapainya target produksi dikarenakan terdapat banyak mesin yang rusak, terutama mesin winding. Sehingga perlu dilakukan perbaikan terhadap mesin winding. Mesin winding adalah mesin yang digunakan untuk membuat lilitan kawat pada bobbin (tempat lilitan) dengan hasil akhir coil. Proses menggunakan mesin winding ini merupakan proses pertama yang dilakukan sebelum melakukan proses selanjutnya sehingga bila terjadi kerusakan pada mesin ini akan menghambat pada proses-proses selanjutnya. Mesin winding ini memiliki jumlah sebanyak 8 unit, setiap satu unit mesin terdapat 8 jig yang berfungsi menopang bobbin sehingga bila terdapat satu mesin rusak maka akan mengakibatkan tidak terproduksi 8 buah coil sekaligus. Oleh karena itu setiap mesin yang rusak harus segera diperbaiki, agar proses produksi dapat berjalan dengan lancar sehingga target produksi dapat tercapai. Namun bila jumlah teknisi maintenance kurang maka akan menyebabkan mesin cukup lama menunggu diperbaiki sedangkan bila jumlah teknisi maintenance berlebih maka akan menyebabkan terdapat teknisi yang mengganggur. Dengan adanya kondisi tersebut perusahaan perlu menentukan jumlah teknisi maintenance yang optimal. Dalam penelitian ini diusulkan model antrean M/M/s/N=8 dengan kriteria minimisasi ekspektasi total ongkos untuk menentukan jumlah teknisi maintenance yang optimal. Data yang digunakan adalah waktu antar kerusakan, waktu lamanya perbaikan, ongkos teknisi maintenance dan ongkos lembur. Pengolahan data dilakukan dengan melakukan pengujian keseragaman rata-rata, pengujian distribusi, perhitungan antrean menggunkaan rumus M/M/s/N=8 dan melakukan perhitungan ekspektasi total ongkos. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa jumlah teknisi maintenance optimal untuk menangani mesin winding di Departemen Ballast adalah sebanyak 2 orang dengan total cost minimum sebesar Rp. 86.697,54/jam