// <![CDATA[USULAN RUTE KENDARAAN PENGANGKUT SAMPAH DI KOTA BANDUNG MENGGUNAKAN ALGORITMA GENETIKA]]> NINDYA TRUSTIYANTI / 132008120 Penulis Ir. Susy Susanti, M.T. Dosen Pembimbing 1 Ir. Lisye Fitria MT Dosen Pembimbing 2
Teknik yang digunakan untuk melakukan proses pengumpulan dan pengangkutan sampah yaitu dengan memperhitungkan jumlah kendaraan pengangkut sampah dan rute yang harus dilalui. Rute pengangkutan dengan jarak tempuh yang jauh menyebabkan waktu pengangkutan sampah akan semakin lama dan terjadi penumpukan sampah yang berlebihan di setiap TPS (Tempat Pembuangan Sementara). Permasalahan sistem pengangkutan sampah di kota Bandung tersebut telah dicari pemecahan masalahnya pada penelitian Fitria (2007). Pada penelitian Fitria (2007), model VRP yang digunakan yaitu Vehicle Routing Problem with Multiple Trips and Intermediate Facility (VRPMTIF) dan algoritma yang digunakan adalah algoritma sequential insertion. Rute kendaraan yang dihasilkan pada penelitian sebelumnya Fitria (2007) tersebut akan dilakukan perbaikan rute kendaraan. Perbaikan rute kendaraan dalam penelitian ini menggunakan algoritma genetika yang bertujuan untuk melakukan perbaikan rute kendaraan pengangkutan sampah. Algoritma genetika merupakan algoritma yang memanfaatkan proses seleksi alamiah yang dikenal dengan proses evolusi. Dimana individu secara terus menerus mengalami perubahan gen untuk menyesuaikan dengan lingkungan hidupnya. Untuk menyelesaikan masalah rute kendaraan sampah, proses pengolahan algoritma genetika menggunakan tiga operator yaitu seleksi, crossover dan mutasi. Cara kerja operator ini salah satunya adalah menukarkan gen (TPS) dalam urutan individu (rute) yang berbeda dengan tujuan menghasilkan total jarak terkecil. Oleh karena itu algoritma genetika akan dapat menghasilkan keturunan individu (rute) yang lebih baik. Penelitian penentuan rute menggunakan algoritma genetika ini menghasilkan total jarak terkecil untuk wilayah Bandung Timur yaitu 4911,225 km, wilayah Bandung Tengah 1081,487 km dan Bandung Barat 571,55 km. Bentuk rute yang dihasilkan dalam perbaikan rute kendaraan ini berbeda dengan bentuk rute kendaraan pada penelitian sebelumnya Fitria (2007). Perbedaannya adalah posisi peletakan TPS pada setiap rute. Posisi peletakan TPS ditempatkan di rute yang akan menghasilkan total jarak terkecil. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa total jarak rute kendaraan yang dihasilkan dengan menggunakan algoritma genetika lebih kecil dari total jarak rute kendaraan yang dilakukan pada penelitian sebelumnya Fitria (2007) dengan algoritma sequential insertion.