// <![CDATA[RANCANGAN PERBAIKAN DISPLAY BERDASARKAN COOPER HARPER RATING SCALE PADA STASIUN KERJA PENGATUR PERJALANAN KERETA API DI PT.KAI]]> ERSA RISNAWATI/132008008 Dosen Pembimbing 1
Berdasarkan data kecelakaan yang diinvestigasi oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) salah satu penyebab kecelakaan kereta api yaitu diakibatkan oleh faktor manusia. Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai human error yang terjadi di PT.KAI (Agusta,2011) menjelaskan bahwa human error banyak terjadi pada pekerja PPKA (Pengatur Perjalanan Kereta Api). Hal itu terjadi berkaitan dengan performansi kerja manusia karena sistem kerja yang ada yang kurang mendukung. Pekerjaan PPKA didukung oleh sebuah perangkat display yang terdiri dari sinyal-sinyal antara PPKA dengan awak kereta api. Display yang baik adalah display yang dapat menyampaikan pesan tertentu sesuai dengan tulisan atau gambar yang dimaksud (Sutalaksana,1979). Kondisi display PPKA saat ini masih dikatakan kurang baik dan perlu dilakukan perbaikan mengunakan pengukuran beban kerja mental. Metode yang dapat diterapkan salah satunya adalah metode Cooper Harper Rating Scale. Cooper Harper Rating Scale memiliki skala yang terdiri 10 titik skala dengan format pohon keputusan yang dinilai secara berurutan, skala dengan nilai berkisar 1 menunjukan karakteristik penanganan yang terbaik dan 10 yang terburuk (Cooper-Harper, 1969). Dilihat dari kondisi masalah yang terjadi, maka metode Cooper Harper Rating Scale merupakan metode yang tepat karena metode tersebut dapat mengevaluasi tugas-tugas kontrol manual dengan cara penskalaan bertahap yang dimulai dengan memperhatikan kontrol pekerjaan, selanjutnya penskalaan beban kerja dan yang terakhir penskalaan tingkat keberhasilan operator. Sehingga diharapkan display tersebut mencapai skala 1 untuk mencapai keberhasilan pekerjaan atau mengurangi kesalahan yang selalu terjadi. Setelah diketahui skala beban kerja pada stasiun kerja PPKA maka selanjutnya adalah melakukan perbaikan tampilan perangkat display berdasarkan skala yang telah ditentukan operator. Perbaikan tersebut dilakukan evaluasi berdasarkan usability testing yaitu melakukan simulasi pekerjaan dari hasil perbaikan rancangan display. Simulasi yang dilakukan berupa pengukuran waktu ketika operator mengoperasikan perangkat display. Hasil simulasi tersebut dijadikan acuan telah adanya perbaikan atau tidak dan hasil simulasi tersebut menunjukan adanya penurunan waktu mencari saat beroperasi setelah adanya perbaikan tampilan display. Waktu ketika mencari saat mengoperasikan display lebih pendek dibandingkan waktu ketika mencari pada kondisi sebelum perancangan. Hasil persentase waktu mencari tombol saat kereta datang pada pengukuran pertama dan kedua menunjukan berkurangnya 20% dan 25%. Sedangkan hasil persentase waktu mencari tombol saat kereta berangkat pada pengukuran pertama dan kedua menunjukan berkurangnya 22% dan 33%.