// <![CDATA[Pemetaan Evapotranspirasi Aktual Tutupan Vegetasi Berbasis Model SEBAL (Surface Energy Balance Algorithm for Land) Menggunakan Data Landsat 8 (Daerah Studi :]]> Endang Priyaningsih / 232011017 Penulis Rika Hernawati, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2 Dr. Dewi Kania Sari, Ir., M.T. Dosen Pembimbing 1
Kebutuhan air dalam kehidupan sangat beragam di antaranya sebagai penghasil hidrogen pada proses fotosintesis dan media berlangsungnya reaksi-reaksi metabolik vegetasi. Suatu ekosistem akan terganggu, bila jumlah air tidak sesuai dengan kebutuhan yaitu kelebihan/kekurangan jumlah air pada tanah di lahan vegetasi. Oleh sebab itu, pemantauan siklus hidrologi dianggap perlu untuk mencegah terganggunya keberlangsungan kehidupan dalam ekosistem. Evapotranspirasi merupakan salah satu proses dalam siklus hidrologi, yaitu gabungan evaporasi dan transpirasi yang terjadi di tutupan vegetasi. Evapotranspirasi yang sebenarnya terjadi dalam kondisi cuaca pada saat itu disebut evapotranspirasi aktual (ETa). Pemantauan distribusi spasial dan temporal ETa dapat menggunakan metode pengindraan jauh. Penelitian ini melakukan proses perhitungan nilai estimasi ETa menggunakan teknologi pengindraan jauh dengan menerapkan model SEBAL (Surface Energy Balance Algorithm for Land). Model SEBAL adalah algoritma untuk menghitung ETa dengan memecahkan neraca energi. Data utama yang digunakan adalah citra Landsat 8 pada tanggal 09 Agustus 2013 dan 10 September 2013. Wilayah studi mencakup wilayah Bandung Raya, Indonesia dengan letak geografis antara 06 ̊ 41’18,65” – 07 ̊18’58,04” LS dan 107 ̊10’54.9” – 107 ̊48’31,9” BT. Penelitian ini menghasilkan nilai estimasi ETa dengan rentang nilai 0 – 5,707 mm hari-1 dan rata-rata 0,718 mm hari-1 ± 1,192 mm hari-1 untuk tanggal 09 Agustus 2013 (DOY 221). Adapun, nilai estimasi ETa untuk tanggal 10 September 2013 (DOY 253) dengan rentang nilai 0 – 5,042 mm hari-1 dan rata-rata 0,782 mm hari-1 ± 1,087 mm hari-1. Terdapat lima jenis tutupan vegetasi yang diteliti, yaitu hutan, ladang/tegalan, perkebunan, sawah dan semak/belukar. Secara umum, nilai ETa yang rata-rata tinggi ( > 3,7 mm hari-1) terjadi pada tutupan hutan dan perkebunan. Adapun nilai ETa yang rata-rata rendah (< 0,9 mm hari-1) terjadi pada tutupan ladang/tegalan dan sawah. Secara spasio-temporal terjadi penurunan rata-rata nilai ETa diindikasi dalam masa panen padi sawah dan periode bera setelah panen. Analisis kelogisan tehadap parameter input model SEBAL dalam penelitian menunjukkan hasil yang baik, yaitu bahwa rentang nilai yang diperoleh masuk dalam rentang nilai literatur berarti nilai estimasi ETa penelitian ini dapat diandalkan bagi pengguna data sebagai gambaran estimasi ETa harian pada skala regional di wilayah Bandung Raya.