MODEL PENJADWALAN JOB PADA NO-WAIT FLOWSHOP DINAMIS DENGAN KRITERIA MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM
Aldoweisan & Allahverdi (2003, 2004) telah melakukan penelitian tentang penjadwalan pada no-wait flowshop untuk m mesin dengan kriteria minimisasi makespan dan minimisasi total completion time. Kondisi no-wait terjadi apabila proses pekerjaan tidak dapat diinterupsi baik saat berada di suatu mesin atau saat transfer ke mesin berikutnya. Ini berarti bahwa saat selesai pekerjaan di suatu mesin harus sama dengan saat mulai proses pekerjaan pada mesin berikutnya. Penelitian tersebut tidak mempertimbangkan due date sebagai faktor pembatas. Penelitian yang mempertimbangkan due date sebagai faktor pembatas telah dilakukan oleh Yuniaristanto (2001) yang mengembangkan suatu model penjadwalan job dan batch pada no-wait flowshop statis untuk common due date dengan kriteria minimisasi total waktu tinggal aktual. Di pihak lain, Dileepan (2004) juga telah melakukan penelitian tentang penjadwalan job pada no-wait flowshop dengan kriteria minimisasi lateness maksimum dan penelitian ini dilakukan pada flowshop 2 mesin. Penelitian-penelitian tersebut di atas mengembangkan model penjadwalan pada lingkungan sistem produksi statis. Pada kenyataannya, sifat kedinamisan sulit untuk diabaikan. Salah satu penyebab kedinamisan tersebut adalah sifat kedatangan order yang tidak menentu, sehingga suatu jadwal yang sudah ditentukan sebelumnya mungkin harus diubah kembali karena kedatangan order baru.
Dalam suatu industri dimungkinkan sering terjadinya suatu keterlambatan. Model penjadwalan ini dapat meminimisasi keterlambatan maksimum serta mampu mengakomodasi kedatangan order yang bersifat dinamis. Penelitian ini membahas model penjadwalan job pada no-wait flowshop yang terdiri dari m mesin (k=1, 2,.., m), dapat mengerjakan sebanyak n job (i=1, 2,.., n) dengan nilai due date berbeda. Setiap job juga memiliki waktu proses dan waktu setup yang nilainya dapat berbeda dan tetap. Pengembangan model dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pengembangan model optimisasi penjadwalan job pada no-wait flowshop dengan kriteria minimisasi lateness maksimum. Tahap kedua adalah algoritma penjadwalan ulang untuk mengakomodasi kedatangan order baru. Algoritma penjadwalan ulang bekerja melalui tiga tahapan, yaitu menjadwalkan job yang telah ada; mengidentifikasi jumlah job yang telah selesai diproses, masih diproses, dan belum diproses ketika kedatangan order baru; dan melakukan penjadwalan ulang dengan menggunakan model optimisasi. Untuk mengetahui hasil yang dikeluarkan oleh model penjadwalan maka dilakukan pengujian cara kerja model. Pengujian cara kerja model dilakukan dalam dua tahap, yaitu melakukan penjadwalan pada saat t=0 (saat lantai produksi kosong) dan melakukan penjadwalan ulang setelah kedatangan job baru. Berdasarkan pengujian cara kerja model, akan didapatkan urutan pekerjaan yang dapat meminimisasi lateness maksimum.
Hasil penjadwalan yang didapatkan dari model optimisasi penjadwalan job pada no-wait flowshop dengan kriteria minimisasi lateness maksimum dan algoritma penjadwalan ulang merupakan hasil yang optimal. Hal ini disebabkan penggunaan metode optimisasi pada persamaan matematisnya yaitu Integer Linear Programming.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2007).MODEL PENJADWALAN JOB PADA NO-WAIT FLOWSHOP DINAMIS DENGAN KRITERIA MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.MODEL PENJADWALAN JOB PADA NO-WAIT FLOWSHOP DINAMIS DENGAN KRITERIA MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM ().Teknik Industri:FTI,2007.Text
MLA Style
.MODEL PENJADWALAN JOB PADA NO-WAIT FLOWSHOP DINAMIS DENGAN KRITERIA MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM ().Teknik Industri:FTI,2007.Text
Turabian Style
.MODEL PENJADWALAN JOB PADA NO-WAIT FLOWSHOP DINAMIS DENGAN KRITERIA MINIMISASI LATENESS MAKSIMUM ().Teknik Industri:FTI,2007.Text