// <![CDATA[ANALISIS PENERAPAN METODA SIX SIGMA UNTUK PERBAIKAN KUALITAS PRODUK DOT MATRIX PRINT HEAD (DH-90D-03/06) (STUDI KASUS DI PT TEC INDONESIA)]]> Lisa Elva - 132002077 Penulis Prof. Dr. Harsono Taroepratjeka, M.S.E Dosen Pembimbing 1 0410126901 - Lisye Fitria, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
Di dalam dunia industri, kepentingan pelanggan adalah prioritas utama yang harus diperhatikan. Dalam menyediakan produk maupun jasa, setiap perusahaan industri harus benarbenar mampu mengetahui dan memahami keinginan setiap pelanggan. Cara berpikir seperti ini akan membentuk suatu sistem industri yang mampu menghasilkan produk dengan karakteristik sesuai keinginan pelanggan. PT. TEC INDONESIA merupakan perusahaan manufaktur yang bergerak di bidang assembly (perakitan) dengan produksi barang-barang elektronik seperti POS Products (Cash Register), Printer, Print Head, dan PCB Assy, yang kemudian dikirim ke lingkup pasar internasional. Perusahaan sangat memperhatikan masalah kualitas terhadap setiap produk yang mengacu kepada standar internasional ISO 9001:2000 (Cert. No. 929689/A). Saat ini permasalahan yang dihadapi perusahaan dalam proses produksi Dot Matrix Print Head (DH- 90N-03/06) adalah masih tingginya frekuensi kecacatan yang terjadi, sehingga perusahaan memerlukan suatu metoda yang sangat tepat untuk mengetahui sumber dan akar masalah utama penyebab timbulnya kecacatan pada produk Dot Matrix Print Head (DH-90N-03/06). Perusahaan perlu menentukan solusi tindakan perbaikan yang tepat dan kemudian diimplementasikan secara terus-menerus dengan pengendalian terhadap pelaksanaannya. Upaya peningkatan kualitas dengan menggunakan metoda Six Sigma merupakan salah satu alternatif yang digunakan untuk mengatasi permasalahan di PT. TEC INDONESIA. Tahapan-tahapan inti pelaksanaan metoda Six Sigma mengikuti suatu pola siklus DMAIC, yaitu Define (tentukan), Measure (ukur), Analyze (analisis), Improve (tingkatkan), dan Control (kendalikan). Penentuan karakteristik kualitas (CTQ) kunci pada penelitian ini dilakukan berdasarkan pertimbangan frekuensi kejadian cacat yang terjadi dan biaya kecacatan yang ditimbulkan (Cost of Poor Quality=COPQ). Identifikasi terhadap faktor-faktor yang menyebabkan kecacatan dilakukan dengan menggunakan diagram fishbone, kemudian selanjutnya setiap faktor dianalisis dengan menggunakan FMEA (Failure Mode and Effects Analysis) sehingga diketahui faktor yang paling beresiko mempengaruhi kecacatan yang dijadikan sebagai prioritas untuk diperbaiki. Faktor ini kemudian diuji secara statistik untuk mengetahui apakah benar-benar memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kecacatan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa karakteristik cacat yang paling potensial terjadi pada proses produksi Dot Matrix Print Head (DH-90N- 03/06) adalah Unclear Printing, sehingga tindakan usulan perbaikan difokuskan pada karakteristik cacat tersebut. Ukuran kinerja dalam DPMO dan Sigma Level pada saat sebelum dilakukan implementasi perbaikan adalah sebesar 7.282,208 DPMO dan 3,94-Sigma. Setelah dilakukan implementasi perbaikan, ukuran DPMO mengalami penurunan menjadi 910,576 DPMO dan peningkatan Sigma Level menjadi 4,62-Sigma.