// <![CDATA[RANCANGAN TATA LETAK FAILITAS PROGRAMA MATEMATIK PADA DEPARTEMEN PRODUKSI PT. IPMS]]> Raden Gia Nurgita - 132001207 Penulis 0430056901 - Emsosfi Zaini, Ir., M.T Dosen Pembimbing 1 0430117501 - R. Cahyadi Nugraha S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
PT. Inti Pindad Mitra Sejati merupakan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri plastik dan konstruksi baja. Salah satu produk yang dihasilkan adalah Tower Tipe 72m Self Supporting Tower (SST.72) yang terdiri dari komponen plat dan siku dengan jumlah komponen keseluruhan sebanyak 479 komponen. Pada kondisi saat ini ongkos perpindahan material yang terjadi sangat besar, sehingga diperlukan perbaikan tata letak yang dapat meminimumkan ongkos perpindahan material antar mesin dan memudahkan perpindahan material sehingga lintasan produksi menjadi efektif dan efisien. Sehubungan dengan perbaikan tata letak fasilitas dalam sistem poduksi maka pihak perusahaan membutuhkan untuk melakukan perancangan ulang tata letak fasilitas yang dapat meminimumkan total ongkos perpindahan material. Model yang digunakan untuk perancangan tata letak fasilitas tersebut adalah programa matematik untuk permasalahan tata letak double-row. Programa matematik untuk permasalahan tata letak double-row tersebut merupakan pengembangan dari model untuk permasalahan tata letak multirow. Pengembangan model tersebut disesuaikan dengan kondisi perusahaan sehingga programa matematik tersebut dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan di perusahaan yang merupakan permasalahan tata letak double-row. Programa matematik digunakan untuk menghasilkan rancangan tata letak yang dapat meminimumkan total ongkos perpindahan material. Berdasarkan hasil pengolahan dari model matematis dapat dilihat bahwa total ongkos perpindahan material yang terjadi adalah sebesar 4.538.140 satuan lebih kecil daripada total ongkos perpindahan yang terjadi pada kondisi saat ini yang bernilai sebesar 11.972.079 satuan. Berdasarkan hasil tersebut maka usulan rancangan tata letak fasilitas yang dihasilkan dapat memberikan total ongkos perpindahan yang minimum. Hal itu terjadi karena jarak perpindahan antar fasilitas pada usulan rancangan tata letak menjadi lebih kecil sehingga mengakibatkan ongkos perpindahannya menjadi lebih kecil.