// <![CDATA[UPAYA PENINGKATAN KUALITAS PART PIPE OUTERKPH DENGAN MENGGUNAKAN METODA SIX SIGMA (STUDI KASUS DI PT. BERDIKARI)]]> Hanna Rulistiawati - 132002098 Penulis 0410057301 - Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T Dosen Pembimbing 1 0410126901 - Lisye Fitria, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
PT. Berdikari salah satu perusahaan manufaktur yang memproduksi bermacam-macam komponen/spare parts sepeda motor, pemesinan diesel, komponen elektronik, bantalan rem dan cetak aluminium. Perusahaan berproduksi berdasarkan job order. Selama ini kepercayaan konsumen terpelihara, sehingga konsumen PT. Berdikari menjadi loyal dengan karakteristik produk yang dipesan tetap. Untuk itu, dalam menghadapi lonjakan permintaan yang cenderung naik, maka PT. Berdikari juga menerapkan make to stock. Pemahaman pada peningkatan kualitas merupakan faktor kunci PT. Berdikari untuk mengarahkan tujuan perusahaan pada keberhasilan, pertumbuhan dan persaingan secara kompetitif dengan perusahaan lain yang sejenis. Salah satu kendala yang dihadapi untuk mencapai suatu produk/jasa agar memenuhi syarat kualitas yang baik tentunya sesuai dengan keinginan pasar/konsumen. Pipe Outer KPH adalah part yang mengalami jumlah claim customer paling tinggi pada bulan desember 2006, yaitu sebesar 59,735 %. Tingginya claim customer tersebut menyebabkan kerugian bagi perusahaan, karena harus mengeluarkan biaya kualitas yang cukup tinggi. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, perusahaan perlu mengetahui akar masalah terjadinya cacat tersebut dan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satu alat peningkatan kualitas dan perbaikan secara berkesinambungan (continuous improvement) adalah metoda Six Sigma karena Six Sigma satu-satunya metoda yang memberikan solusi ampuh dalam hal terobosan-terobosan yang harus dilakukan untuk meningkatkan kualitas secara dramatic menuju tingkat kegagalan nol (Gaspersz, 2002). Pada tahap awal Six Sigma yaitu tahap Define, berdasarkan pemeriksaan akhir bulan Januari 2007 secara visual 100 %, CTQ (Critical to Quality) potensial adalah gelombang ujung, burry, melengkung, gores dan karat. Hal ini disesuaikan dengan claim customer yang mengeluhkan cacat Pipe Outer KPH secara visual. Tahap kedua adalah tahap Measure. Berdasarkan nilai COPQ (Cost of Poor Quality) tertinggi, jenis cacat yang paling dominan pada part Pipe Outer KPH adalah gelombang ujung. Pada tahap Analyze, diperoleh nilai DPMO (Defects per Million Opportunities) adalah 72.199,350 dan level sigma 2,992. Penyebab cacat yang signifikan terhadap part Pipe Outer KPH diidentifikasi dengan menggunakan fishbone, yaitu mesin dan material. Tahap Improve tindakan yang dilakukan adalah perbaikan terhadap faktor mesin dan material. Setelah dilakukan perbaikan dan implementasi diperoleh nilai DPMO 8522,133 dengan level sigma 3,886. Tahap akhir dari Six Sigma adalah melakukan pengendalian atau Control dengan mengusulkan pendokumentasian dari hasil perbaikan Six Sigma dan dijadikan pedoman kerja standar, serta mengusulkan penambahan porsi check pada lembar check point untuk operator. Peningkatan level sigma pada part Pipe Outer KPH menunjukkan bahwa metoda Six Sigma yang diterapkan sebagai salah satu alat pengendalian kualitas mampu meminimasi jumlah cacat, sehingga kualitas dari part Pipe Outer KPH dapat diperbaiki.