RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU ISOLATE SOYA PROTEIN ( ISP ) DI PT. BADRANAYA PUTRA.
PT. Badranaya Putra merupakan perusahaan manufaktur yang memproduksi berbagai jenis produk daging olahan. Produk sosis dan beef burger merupakan produk yang paling banyak permintaannya di antara semua produk yang dihasilkan di PT. Badranaya. Permintaan sosis dan beef burger bersifat probabilistik yaitu jumlah permintaan dan waktu kedatangan permintaan tidak dapat ditentukan sehingga PT. Badranaya Putra perlu memperhatikan persediaan untuk kedua jenis produk ini. Kelebihan persediaan produk sosis dan beef burger akan mengakibatkan tingginya ongkos simpan bagi perusahaan sedangkan kekurangan persediaan akan mengakibatkan perusahaan kehilangan penjualan (lost sales).
Jumlah persediaan tersebut tidak lepas dari faktor ketersediaan bahan baku. Salah satu bahan baku yang digunakan dalam menghasilkan sosis dan beef burger adalah ISP (Isolate Soya Protein). Dengan sistem persediaan yang selama ini dijalankan, PT. Badranaya Putra telah beberapa kali mengalami kondisi kehabisan persediaan bahan ISP (stock out) yaitu diperkirakan sebanyak 8 dari 140 konsumen yang datang atau sebesar 5,71% (6%). Hal ini akan memberikan dampak khusus bagi citra PT. Badranaya yaitu kehilangan kepercayaan konsumen.
Oleh karena itu, dibutuhkan suatu sistem persediaan ISP yang dapat mendukung kelancaran kegiatan produksi dengan kriteria ongkos minimum bagi PT. Badranaya Putra. Model yang paling tepat digunakan pada kondisi perusahaan adalah model persediaan single item pada kondisi demand probabilistik dengan biaya stock out tidak diketahui yang dikembangkan oleh Hadley & Whitin (1963) untuk kasus lost sales. Model ini akan menghasilkan rancangan sistem persediaan bahan ISP berupa penentuan jumlah pemesanan bahan ISP yang optimal (Q*), titik pemesanan kembali (r), dan jumlah persediaan pengaman (s) dengan kriteria minimasi total biaya persediaan pada fraksi rata-rata terjadinya stock out maksimum (f) yang telah ditetapkan perusahaan yaitu sebesar 2 % atau diperkirakan 2 dari 100 konsumen yang datang.
Berdasarkan hasil pengolahan data, diperoleh jumlah pemesanan optimal bahan ISP (Q*) = 80 Kg, titik pemesanan kembali bahan ISP (r) = 21.75 Kg, dan safety stock (s) = 3.35 Kg dan menghasilkan total biaya persediaan sebesar Rp 210,675.12,-/tahun. Rancangan sistem persediaan ini dapat diterapkan di perusahaan karena meminimasi kondisi stock out pada perusahaan dan menghasilkan total ongkos yang lebih kecil dibandingkan dengan sistem persediaan perusahaan serta telah disesuaikan dengan ukuran pemesanan bahan baku ISP pada sistem persediaan perusahaan.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2007).RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU ISOLATE SOYA PROTEIN ( ISP ) DI PT. BADRANAYA PUTRA. ().Teknik Industri:FTI
Chicago Style
.RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU ISOLATE SOYA PROTEIN ( ISP ) DI PT. BADRANAYA PUTRA. ().Teknik Industri:FTI,2007.Text
MLA Style
.RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU ISOLATE SOYA PROTEIN ( ISP ) DI PT. BADRANAYA PUTRA. ().Teknik Industri:FTI,2007.Text
Turabian Style
.RANCANGAN SISTEM PERSEDIAAN BAHAN BAKU ISOLATE SOYA PROTEIN ( ISP ) DI PT. BADRANAYA PUTRA. ().Teknik Industri:FTI,2007.Text