// <![CDATA[USULAN PERBAIKAN KUALITAS PADA PROSES PRODUKSI AIR MINUM DALAM KEMASAN MENGGUNAKAN METODA SIX SIGMA DI PT. BUANA TIRTA ABADI.]]> YUANITA FAUZANI / 13.2002.103 / TI Penulis 0410057301 - Fifi Herni Mustofa, S.T., M.T Dosen Pembimbing 1 0425107701 - Hendro Prassetiyo, S.T., M.T. Dosen Pembimbing 2
PT. Buana Tirta Abadi (PT. BTA) merupakan salah satu produsen Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) di Indonesia. Produk AMDK PT. BTA merupakan air minum yang memenuhi persyaratan kesehatan sesuai dengan SNI 01-3553-96 dan Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Pada akhir tahun 2005 sampai sekarang, PT. BTA menjalin kerjasama (makloon) dengan beberapa klien. Salah satu diantaranya adalah PT. Tirta Investama(Merek Dagang VIT). Di lantai produksi, pada bulan Desember 2006 proses produksi VIT jenis cup 240 ml menghasilkan cacat sebanyak 13,24%. Nilai ini jauh lebih besar bila dibandingkan dengan cacat produksi jenis botol dan galon yang hanya berkisar antara 0,10-0,16 % saja. Produk yang tidak memenuhi spesifikasi akan dinyatakan defect dan tidak dapat dikirim kepada klien. Dengan jumlah cacat yang cukup besar tentu saja akan mengurangi keuntungan yang akan diterima oleh perusahaan. Agar dapat terus melakukan kerjasama dengan klien, PT. BTA harus selalu menjaga kualitas dari produknya dengan melakukan perancangan sistem pengendalian kualitas yang baik dan berkesinambungan. PT. BTA menyadari bahwa cacat tidak dapat dihilangkan, akan tetapi dapat diminimasi dalam upaya peningkatan kualitas. Oleh karena itu PT. BTA menginginkan adanya perbaikan terhadap proses produksi melalui metoda peningkatan kualitas. Metoda yang dapat dipakai adalah Six Sigma karena metoda ini bertujuan untuk menghasilkan produk menuju tingkat kegagalan nol dengan melalui 5 tahapan, yaitu Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control(Gaspersz., 2002). Pada tahap Define, dilakukan pendefinisian cacat yang terjadi pada proses produksi VIT jenis cup 240 ml. Diketahui pada cacat kemasan, cacat yang paling sering muncul adalah kotor cup, dan kotor serat. Sedangkan untuk cacat proses, yang paling sering muncul adalah volume kurang, lid miring, dan bocor. Pada tahap Measure, dilakukan perhitungan kapabilitas proses. Diketahui nilai Deffects per Million Opportunities (DPMO) sebesar 26.481,63 dengan nilai Sigma3,44. Pada tahap Analyze, dilakukan analisis penyebab terjadinya cacat dengan menggunakan Cause-and-Effect Diagram dan Failure Modes and Effects Analysis (FMEA). Diketahui bahwa faktor paling beresiko yang harus segera diberikan usulan tindakan perbaikan adalah faktor kesalahan pengamatan cacat dan pengawasan mesin. Selanjutnya, pada tahap Improve diberikan suatu usulan tindakan perbaikan berdasarkan sumber dan penyebab kecacatan yang telah teridentifikasi. Usulan yang diberikan berupa penetapan standar kemiringan lid yang masih dapat ditolelir dan menetapkan suhu standar untuk mesin sealer. Pada tahap terakhir Six Sigma, yaitu tahap Control, dilakukan kembali perhitungan kapabilitas proses setelah usulan tindakan perbaikan diterapkan. Didapat penurunan nilai DPMO menjadi 14.372,57 dan kenaikan nilai Sigma menjadi 3,69. Artinya, usulan perbaikan pada bagian pengawasan mesin dan Visual Control telah dapat meminimasi beberapa cacat yang terjadi pada proses produksi VIT cup 240 ml. PT. BTA telah melakukan perbaikan dan mengalami peningkatan nilai Sigma, namun perusahaan harus tetap melakukan perbaikan secara terus menerus sesuai dengan prinsip metoda Six Sigma. Dengan dilakukannya perbaikan secara terus menerus (continues improvement), diharapkan perusahaan dapat mencapai nilai 6 Sigma, yang dengan kata lain memiliki zero defect dalam proses produksinya.