// <![CDATA[USULAN PENINGKATAN KUALITAS PELAYANAN PENDIDIKAN TINGGI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SIX SIGMA.]]> FETRI ADITYASTANTI / 13.2002.110 / TI Penulis Prof. Dr. Harsono Taroepratjeka, M.S.E Dosen Pembimbing 1 0422037203 - Sugih Arijanto ST.,M.M Dosen Pembimbing 2
Keterbukaan dan kemudahan informasi yang sedang berlangsung saat ini menimbulkan berbagai pengaruh pada keberadaan perguruan tinggi-perguruan tinggi yang ada di tanah air. Keberadaan perguruan tinggi dalam masyarakat yang makin terbuka, menuntut perguruan tinggi untuk menampilkan citra positif sebagai institusi berkualitas yang perduli dengan kondisi masyarakat dan adaptif terhadap perkembangan dan tuntutan masyarakat. Kemampuan untuk menampilkan citra positif bahwa perguruan tinggi memang merupakan institusi yang layak dipercaya akan menjadi salah satu faktor pendukung utama keberhasilan suatu institusi pendidikan tinggi untuk mampu mempertahankan keberadaannya serta mengembangkan berbagai pogramnya. Teknik Industri ITENAS sebagai salah satu institusi perguruan tinggi di Indonesia tidak terlepas dari pengaruh tersebut. Untuk tetap mampu mempertahankan keberadaan, menaikkan jumlah peminat, dan menghadapi persaingan, Jurusan Teknik Industri ITENAS akan terus senantiasa meningkatkan produktivitas, kualitas dan kuantitas metode pengajarannya, sehingga perlu untuk mengetahui bagaimana kualitas pelayanan pendidikan tinggi di Jurusan Teknik Industri menurut mahasiswa. Upaya peningkatan kualitas dengan menggunakan metoda Six Sigma merupakan salah satu alternatif yang digunakan di Jurusan Teknik Industri ITENAS. Tahapan-tahapan inti pelaksanaan metoda Six Sigma mengikuti suatu pola siklus DMAIC, yaitu Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control. Penentuan karakteristik kualitas (CTQ) kunci pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan diagram IS (Importance-Satisfaction) yang berguna untuk mengetahui tingkat kepentingan konsumen dikaitkan dengan kepuasan yang dirasakan oleh konsumen saat ini. Untuk menentukan batas-batas dalam diagram IS (Importance-Satisfaction), program six sigma menetapkan kriteria yang ketat yaitu ranting kepuasan rendah apabila ratarata skor kepuasan lebih kecil dari 4 (dalam skala 1-5), sedangkan ranting kepuasan tinggi apabila rata-rata skor lebih besar atau sama dengan 4. Ranting kepentingan rendah apabila ratarata skor ke[entingan lebih kecil dari 3 (dalam skala 1-5), sedangkan ranting kepentingan tinggi apabila skor kepentingan lebih besar atau sama dengan 3. Dari diagram IS (Importance- Satisfaction), terdapat 29 item-item pernyataan yang akan dihitung pada pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome. Item-item pernyataan yang akan dihitung pada pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome adalah atribut yang terdapat dalam kuadran A (Attention), yaitu atribut yang memiliki tingkat kepentingan tinggi tetapi tingkat kepuasan. Dari pengolahan data yang telah dilakukan, dapat diketahui prioritas atribut pelayanan pendidikan yang harus diperbaiki dari pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome dan Diagram IS (Importance-Satisfaction) adalah Pengajaran dan pelatihan soft skill (logical skills, knowledge of technology, analytical skills, oral communications skill, dll). Berdasarkan pengukuran baseline kinerja pada tingkat outcome, dapat diketahui bahwa nilai sigma rata-rata untuk seluruh item-item pernyataan Critical-To-Quality (CTQ) yang berhubungan langsung dengan kebutuhan pelanggan mempunyai nilai 1.750 sigma, hal ini berarti dalam satu kesempatan bertanya kepada responden, terdapat rata-rata kesempatan terjadinya ketidakpuasan dari suatu karakteristik CTQ (critical-to-quality) adalah 0.401 DPMO.