// <![CDATA[MODEL OPTIMISASI UKURAN LOT PRODUKSI PADA SISTEM PRODUKSI YANG TIDAK SEMPURNA DENGAN KRITERIA MINIMASI TOTAL ONGKOS.]]> ASTRI MARTIARINI KADARISMAN / 13.2003.130 / TI Dosen Pembimbing 1 Arie Desrianty, S.T, M.T Fifi Herni Mustofa, ST., M.T
Economic Production Quantity (EPQ) merupakan suatu model yang mengasumsikan bahwa proses produksi yang terjadi adalah proses yang terkendali, sehingga seluruh produk yang dihasilkan selalu berkualitas baik dan dapat diterima. Hal ini terjadi karena EPQ mengasumsikan fasilitas produksi yang digunakan tidak pernah mengalami kegagalan. Pada kenyataannya proses produksi dapat bergeser menuju kondisi yang tidak terkendali sehingga menghasilkan produk dengan kualitas di bawah standar. Penelitian mengenai permasalahan tersebut telah dilakukan oleh Astria (2006) yang mengembangkan model optimisasi lot produksi dengan mempertimbangkan probabilitas produk gagal dan produk baik. Dengan adanya kondisi cacat menjadikan produk tidak dapat digunakan sesuai dengan tujuan, sehingga menyebabkan jumlah produksi yang diinginkan menjadi berkurang. Penelitian mengenai permasalahan tersebut telah dilakukan oleh Ben-Daya & Rahim (2003) yang mengembangkan model dengan mempertimbangkan bahwa kondisi produksi yang tidak sempurna, akan menghasilkan input tidak sesuai dengan output yang diharapkan, akibat adanya kesalahan dalam inspeksi/pemeriksaan yaitu terjadi probabilitas untuk menerima produk cacat dan probabilitas menolak produk baik. Berdasarkan hasil penelitian-penelitian tersebut, output yang tidak sesuai akan mempengaruhi pemenuhan permintaan. Oleh karena itu, diperlukan suatu pengembangan model optimisasi lot produksi dengan mempertimbangan sistem produksi tidak sempurna yang meminimumkan total ongkos. Penelitian ini membahas mengenai penentuan ukuran lot produksi (Q) pada system produksi tidak sempurna yang terdiri atas single item untuk kasus single stage dengan kriteria minimasi total ongkos. Sistem yang akan dibahas pada penelitian ini adalah sistem tidak sempurna akibat output yang dihasilkan dan adanya kesalahan dalam pemeriksaan. Produksi akan dilakukan dalam beberapa run produksi untuk pemenuhan permintaan dengan dilakukan pemeriksaan untuk setiap produk yang dihasilkan. Produk gagal akan di reject dan produk baik akan langsung dikirim. Apabila di akhir run produksi tidak dapat memenuhi permintaan, maka terjadi penalti. Pengembangan model ini dilakukan dengan tiga tahap penyelesaian, tahap pertama menentukan permintaan yang harus dipenuhi di setiap run ke-j dan jumlah produksi yang akan dibuat dengan mempertimbangkan probabilitas cacat yang mungkin terjadi. Tahap kedua menentukan probabilitas kegagalan produk dengan menggunakan pendekatan model Astria dan probabilitas jumlah produk cacat yang mungkin terjadi pada setiap run produksi ke-j. Probabilitas jumlah produk cacat ditentukan berdasarkan distribusi binomial. Tahap ketiga menentukan variabel keputusan yaitu ukuran lot produksi di setiap run produksi ke-j dengan mempertimbangkan sistem produksi yang tidak sempurna. Tahap ketiga ini dilakukan berdasarkan prosedur pemrograman dinamis probabilistik. Oleh karena itu, diperoleh model matematis yaitu U + CP + {F j+1 *( S j+1)}. Untuk melihat cara kerja model tersebut dilakukan pengujian dan analisis sensitivitas dengan menggunakan data hipotetik yang terdiri dari tiga set data diantaranya set data pertama adalah pengujian model dengan jumlah permintaan lebih besar daripada kapasitas produksi, set data kedua adalah pengujian model dengan jumlah permintaan sama dengan kapasitas produksi, dan set data ketiga adalah analisis sensitivitas untuk setiap kenaikan ongkos setup, produksi serta penalti. Secara keseluruhan solusi optimal yang dihasilkan model adalah ukuran lot produksi Q=1, sehingga perubahan parameter tidak mempengaruhi model.