// <![CDATA[ANALISIS KELAYAKAN PEMBANGUNAN PABRIK BIOGAS GAS SEBAGAI SOLUSI PENGELOLAAN SAMPAH TPA LEUWIGAJAH.]]> Ir. Alex Saleh, MT. Dosen Pembimbing 1 0405097701 - Dwi Kurniawan S.T, M.T. Dosen Pembimbing 2 Aditia Adriansyah / 13-2003-062 Penulis
Permasalahan sampah sisa pembuangan akan terus muncul selama masyarakat tidak segera memikirkan cara penanggulangannya. Demikian juga Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Leuwigajah. Permasalahan sampah di TPA tersebut tidak memiliki solusi yang optimal; sampah hanya dibiarkan menumpuk dan tidak diolah lebih lanjut. Tidak kecil jumlah korban ataupun kerugian yang justru terpaksa ditanggung oleh masyarakat luas yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah dalam menangani masalah penumpukan sampah. Menumpuk sampah apalagi di tempat yang tidak layak, dapat menimbulkan banyak masalah, terutama tercemarnya air tanah dan penyebaran bibit penyakit, serta pencemaran udara ke wilayah di sekitarnya. Pada bulan Februari 2005, terjadi ledakan yang mengakibatkan tumpukan sampah di TPA Leuwigajah longsor. Ini membuktikan adanya energi yang sangat besar yang dihasilkan oleh tumpukan sampah tersebut. Energi itu adalah gas methan yang dihasilkan oleh tumpukan sampah. Gas methan ini dihasilkan dari proses fermentasi (pembusukan) dari sampah organik secara anaerobik (tanpa udara) oleh bakteri methan sehingga dihasilkan gas methan. Gas methan adalah gas yang mengandung satu atom C dan 4 atom H yang memiliki sifat mudah terbakar. Pengolahan sampah yang ada sekarang ini hanya pada jenis-jenis sampah tertentu, yang paling banyak adalah jenis sampah non organik seperti salah satunya adalah kertas dan plastik. Sampah jenis ini sering dimanfaat kan oleh para pemulung untuk dikumpulkan yang nantinya dijual kepada perusahaan-perusahaan yang biasa mengelola jenis sampah tersebut. Sedangkan untuk sampah jenis organik, pengolahannya masih sangat sedikit. Kebanyakan sampah organiklah yang menumpuk di TPA Leuwigajah. Ada beberapa alternatif yang dapat dilakukan dalam penanggulangan sampah organik, seperti yang sudah dilakukan sekarang adalah dengan merubahnya menjadi kompos, kompos ini dihasilkan dari bahan baku sampah organik yang diperoses sedemikian rupa hingga akhirnya dapat digunakan sebagai penyubur tanah. Alternatif lain adalah Incinerator, alternatif ini memanfaatkan sampah organik dan mengubahnya menjadi energi listrik, prosesnya antara lain sampah organik dibakar dan dijadikan uap panas yang nantinya diproses lebih lanjut menjadi listrik. Selain itu alternatif biogas dianggap perlu untuk dipertimbangkan, dikarenakan dalam penelitian sebelumnya bahwa ternyata sampah organik dapat menghasilkan biogas yang energinya dapat dimanfaatkan sama seperti gas elpiji. Diperkirakan harga jual dari biogas jauh lebih murah dibandingkan dengan gas elpiji, selain itu dengan pengolahan sampah yang ada di TPA Leuwigajah menjadi biogas akan menjadi suatu solusi yang patut diperhitungkan dan ramah lingkungan, semua itu dikarenakan prosesnya tidak menghasilkan panas yang akan menyebabkan Global Warming selain itu gas biogas ini dapat diperbaharui (renewable).