// <![CDATA[PERBAIKAN KUALITAS AIR LIMBAH DARI PROSES EKSTRAKSI KULIT KINA ( CINCHONA SP ) MENGGUNAKAN KOAGULAN BIJI KELOR ( MORINGA OLEIFERA LAM ) DAN PAC ( POLY ALUMUNIUM CHLORIDE )]]> WINDI NURSANDI SUHANDI / 25.2003.006 / TL Dosen Pembimbing 1 Dr. Mumu Sutisna Ir. Etih Hartati, MT
PT. SIL adalah industri farmasi yang menghasilkan air limbah dari proses ekstraksi kulit kina. Selama ini, air limbah yang berasal dari proses ekstraksi kulit kina langsung dibuang ke lahan peresapan tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Bila hal tersebut dilakukan terus menerus maka akan berpotensi menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan. Untuk mengetahui pengaruh air limbah dari proses ekstraksi terhadap tanaman, maka pada penelitian ini dilakukan uji hayati dengan metoda cepat dan sederhana. Salah satu cara pengolahan limbah secara kimia adalah melalui proses koagulasi-flokulasi. Proses koagulasi-flokulasi pada umumnya menggunakan bahan koagulan sintetis seperti ferro sulfat, alum, dan poly alumunium chloride (PAC). Selain bahan kimia sintetis, terdapat bahan-bahan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan tropis yang dapat digunakan sebagai koagulan diantaranya adalah biji Moringa oleifera Lam atau lebih dikenal dengan nama biji kelor. Berdasarkan hal tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan pengolahan air limbah melalui proses koagulasi-flokulasi dengan menggunakan koagulan biji kelor dan PAC. Tujuannya adalah untuk menganalisis pengaruh penggunaan koagulan tersebut terhadap penurunan parameter fisik dan kimiawi dari air limbah yang berasal dari proses ekstraksi kulit kina. Penentuan pH dan dosis optimum dilakukan menggunakan alat jar test. Dari hasil penelitian, penggunaan biokoagulan pada dosis optimum 37500 ppm ke dalam air limbah dapat menurunkan : warna dari 30000 Pt-Co menjadi 600 Pt-Co; kekeruhan dari 3500 NTU menjadi 75 NTU; COD dari 7500 mg/L menjadi 2340 mg/L; BOD dari 2901 mg/L menjadi 638,25 mg/L; TSS dari 5700 mg/L menjadi 252 mg/L; N total dari 256,928 mg/L menjadi 116,032 mg/L; dan fenol dari 108,922 mg/L menjadi 23,760 mg/L. Bila dibandingkan dengan baku mutu air limbah seperti tercantum dalam Keputusan Gubernur Jawa Barat no 6 tahun 1999 terkait dengan industri farmasi, karakteristik air limbah hasil pengolahan dengan biokoagulan masih melebihi baku mutu yang ditetapkan. Untuk mengurangi kadar polutan di dalam air limbah tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan pengolahan lanjutan menggunakan PAC. Penggunaan PAC pada dosis optimum 15000 ppm ke dalam air limbah dapat menurunkan : warna dari 600 Pt-Co menjadi 100 Pt-Co; kekeruhan dari 75 NTU menjadi 40,2 NTU; COD dari 2340 mg/L menjadi 1769,048 mg/L; BOD dari 638,25 mg/L menjadi 529,40 mg/L; TSS dari 252 mg/L menjadi 228 mg/L; nitrogen total dari 116,032 mg/L menjadi 103,6 mg/L; dan fenol dari 23,760 mg/L menjadi 12,302 mg/L. Berdasarkan hasil perbandingan terhadap baku mutu, karakteristik akhir air limbah yang telah diolah masih melebihi standar baku mutu yang ditetapkan. Namun, pengolahan yang telah dilakukan telah dapat mengurangi warna 99,67 %; kekeruhan 98,85 %; COD 78,25 %; BOD 81,96 %; TSS 96 %; nitrogen total 59,68 %; dan fenol 88,71 %. Untuk mencapai baku mutu yang diijinkan maka diperlukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan jenis pengolahan yang tepat, yang dapat digunakan untuk menyisihkan COD 15,6 %; BOD 12,93 %; TSS 1,72 %, nitrogen total 22,81 %; dan fenol 6,7 %.