// <![CDATA[PERENCANAAN SISTEM DRAINASE KECAMATAN JATINANGOR - KABUPATEN SUMEDANG.]]> RAHMIATY UTAMI / 25.1999.013 / TL Dosen Pembimbing 1 Ibu Rachmawati S.Dj.,Ir.,M.,Env.,Stud
Perkembangan pembangunan Kecamatan Jatinangor yang pesat, memerlukan sistem drainase untuk suatu lingkungan perkotaan yang baik dan memadai. Secara administratif, wilayah tersebut terdiri dari 12 Desa dengan luas 2650 Ha dan berpenduduk sebanyak 105.479 jiwa yang terus bertambah. Kecamatan ini tidak mempunyai saluran drainase yang terstruktur, pengaliran air hujan hanya mengandalkan sungai dan sistem drainase primer berupa saluran buatan di tepi jalan. Jika musim hujan tiba dengan durasi hujan yang lama dengan intensitas hujan yang tinggi, maka akan terjadi genangan pada lokasi-lokasi tertentu. Hal ini terjadi karena adanya penyumbatan sampah di saluran dan sungai, sedimentasi saluran, gorong-gorong yang terlalu kecil, bangunan pelimpah yang terlalu tinggi, termasuk adanya perubahan tata guna lahan. Ada 3 sungai yang dimanfaatkan dalam saluran drainase primer di Kecamatan Jatinangor, yaitu Sungai Cikeruh, sungai Cibeusi, sungai Ciloa dan anak sungai lainnya yaitu sungai Cileles dan sungai Cicaringin. Data curah hujan harian maksimum yang diperlukan untuk menghitung banjir di Kecamatan Jatinangor diambil dari 6 Stasiun Curah Hujan, yaitu Stasiun Jatinangor, Stasiun Cemara, Stasiun Ujungberung, Kecamatan Rancakalong, Kecamatan Tanjungsari, Kecamatan Cimanggung, dengan pencatatan 30 tahun. Setelah data konsisten dan homogen maka dihitung analisa frekuensi dan pemilihan persamaan intensitas hujan yang terpilih dari analisa frekuensi adalah berdasarkan persamaan Log Pearson Type III, sedangkan persamaan intensitas hujan yang terpilih adalah berdasarkan persamaan Talbot. Perioda analisa hidrologi dilakukan untuk menentukan kurva IDF (Intensity Duration Frequency) yang akan digunakan pada tahap desain. Dalam perencanaan ini diusulkan dua alternatif jalur drainase, yang dipilih berdasarkan metoda WRT (Weight Ranking Technique). Dari hasil perhitungan metoda WRT diperoleh alternatif yang terbaik yaitu alternatif 1. Perioda Ulang Hujan yang terpilih adalah 10, 25, 50 tahun sesuai dengan luas blok pengaliran dan resiko yang dapat terjadi di wilayah tersebut.Dari hasil perhitungan diperoleh dimensi untuk debit dengan nilai antara ; 1,24-166 m3/dt, tinggi saluran adalah 1,48-8,72 m, kemiringan saluran adalah 0,08-2,2%, kecepatan adalah 0.6-3 m/dt, kedalaman saluran adalah 1,02-5,9 m dan untuk lebar saluran adalah 1,13-1,9 m, jumlah gorong-gorong yang direncanakan sebanyak 25 buah. Perkiraan biaya total untuk pembuatan jalur drainase adalah Rp. 175.326.175.475,55,-