// <![CDATA[KAJI EKSPERIMENTAL DESTILATOR SURYA TIPE ATAP KACA.]]> LUKMAN NUL HAKIM / 25.2002.009 / TL Penulis
Distilator surya sudah sejak lama digunakan, namun beberapa beberapa penelitian belum menunjukan hasil memuaskan terutama produksi distilat yang sangat kecil. Oleh karena itu diperlukan pengembangan dan pengkajian lebih lanjut agar produksinya lebih baik lagi. dalam penelitian ini telah diuji 2 buah distilator yaitu tipe distilator tunggal (SS) dan tipe distilator yang digabung dengan kolektor (SC). pengujian dilakukan dengan air umpan berbeda yaitu air tanah (TDS = 115 mg/L) dan air laut (TDS = 39.750 mg/L), selain itu pengaruh lokasi pengujian dipertimbangkan juga yaitu di Laboratorium Surya, Bandung dan daerah Pantai Cirebon. Kualitas distilat diuji dan dibandingkan dengan SK. Menkes 907/2002, dan dilakukan tinjauan ekonomi untuk mengetahui nilai ekonomi air distilat. Hasil pengolahan data menunjukan pada radiasi 14-22 mj/m2 efisiensi distilator dengan umpan air tanah SS1 sebesar 35 %, dan SC1 sebesar 26 % dan penggunaan umpan air laut SS2 33%, SC2 22% menunjukan bahwa penggunaan rangkaian kolektor (SC) mempunyai efisiensi lebih kecil pada kedua air umpan dibandingkan dengan rangkaian distilator tunggal (SS), sedangkan pengaruh TDS yang besar akan memperkecil produksi distilat. Perbedaan tempat pengujian menunjukan bahwa pengujian di Laboratorium surya lebih baik daripada di daerah pantai. Sedangkan kualitas air distilat menunjukan hampir semua parameter yang diuji berada dalam ambang batas SK.Menkes 907/VIII/Tahun 2002 kecuali untuk pH sebesar 5 -5,5 dan kehadiran bakteri patogen pada air distilat menunjukan adanya kontaminasi. Dari hasil perhitungan ekonomi, harga air distilasi lebih ekonomis dari harga air distilasi yang ada dipasaran.