// <![CDATA[PERENCANAAN TEKNIK INSTALASI PENGOLAHAN LUMPUR TINJA DI KABUPATEN DAERAH TINGKAT II GIANYAR-BALI]]> ANAK AGUNG NGURAH BAGUS D. / 2593025 Dosen Pembimbing 1 Ir. HM Masduki HS. Ir. Eko Winar Irianto, MT
Ketrutuhan akan sarana dan prasarana sistem sanitasi terus berkembang dari waktu ke waktu, terutama di daerah perkotaan yang mempunvai kepadatan penduduk relatif tinggi. Lumpr tinja yang berasal dari tangki septik rumah tangga sebagian besar dibiarkan begitu saja atau dibuang pada sembarang tempat tanpa dilakukan pengolahan terlebih dahulu. Hal ini bertentangan dengan Undang-Undang Lingkungan Hidup tahun 1997 No 23 tentang "Ketentuan Pokok Lingkungan Hidup". Pembuangan limbah manusia ke badan air yang menimbulkann rasalah pencemaran terhadap badan-badan air tersebut. Di dalam perencanaan lnstalasi Pengolahan Lumpur Tinja ( IPLT ) di Kabupaten Gianyar digunakan parameter-parametera yang akan mendukung perhitungan unit-unit pengolahan lumpur tinja yang diperlukan. Adapun parameter-parameter tersebut adalah: .jumlah penduduk Kabupaten Gianyar pada masa perencanaan 20 tahun ( 2000-2020 ) = 439.740 jiwa, dengan jumlah penggunaan tangki septik = 82%. Sedangkan dalam perencanaan IPLT ini diasumsikan yang akan terlayani = 60% dan 40% memanfaatkan sistem "Rioolering” pada penyaluran air buangannya (tinja). Parameter penting lainnya adalah besarnya konsentrasi BOD5 = 8000 mg/l dan debit timbulan tinja ( kering ) : 40 l/orglthn. Disini akan diajukan alternatif penanganan lumpur tinia yang paling optimal yang dipilih berdasarkan beberapa tinjauan seperti luas lahan, biaya konstruksi, konsentrasi BOD5, serta operasi dan pemeliharaan dengan pemilihan alternatif menggunakan "Metode Weighting Ranking Technique”. Pada pemilihan alternatif ini, maka alternative terpilih adalah altenratif yang terdiri dari unit-unit pengolahan. Up-flow Anaerobic Sludge Blanket ( UASB ), Anaerohic Pond, Facultatif Pond, Maturation Pond, dan Sludge Drying Beds dan selanlutnva dilakukan perhitungan dimensi unit-unit pengolahan dan biaya konstruksi pada unit-unit pengolahan tersebut.