// <![CDATA[FITOREMEDIASI LIMBAH CAIR TAPIOKA DENGAN MENGGUNAKAN TUMBUHAN KANGKUNG AIR (IPOMOEA AQUATICA)]]> Rika Nurkemalasari / 252009011 Penulis Dr. Mumu Sutisna Eka Wardhani ST.,MT
Industri tapioka dapat menimbulkan pencemaran air yang mengakibatkan penurunan kualitas air. Suatu teknologi seperti fitoremediasi diperlukan untuk menurunkan parameter pencemar limbah cair tapioka yang mudah diaplikasikan masyarakat. Dalam fitoremediasi terjadi proses mikroorganisme bekerjasama dengan tumbuhan untuk mendegradasi parameter pencemar. Dalam penelitian ini dilakukan fitoremediasi Ipomoea aquatica yang bertujuan untuk mengetahui perlakuan optimum dalam mengurangi parameter BOD5, COD, TSS, pH dan sianida pada limbah cair tapioka sesuai baku mutu Surat Keputusan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Jawa Barat No. 6 tahun 1999 tentang Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Industri di Jawa Barat. Penelitian pendahuluan diperoleh hasil Ipomoea aquatica dapat tumbuh dengan baik pada limbah cair tapioka 25%. Penelitan utama dilakukan 16 hari dengan menggunakan tiga perlakuan (kontrol, Ipomoea aquatica 100 gram dan Ipomoea aquatica 200 gram). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan yang optimum dilihat dari efisiensi penyisihan terdapat pada Ipomoea aquatica 200 gram yaitu BOD5 81,13% hari ke 16, COD 78,57% hari ke 16, TSS 59,29% hari ke 12 dan sianida 50% hari ke 4. Pertumbuhan biomassa Ipomoea aquatica yang paling cepat setelah 16 hari terdapat pada Ipomoea aquatica 200 gram dengan laju pertumbuhan 67,05%. Ipomoea aquatica dapat mengakumulasi sianida setelah 16 hari dan masih memenuhi standar baku mutu FAO yaitu 10 mg/kg.