// <![CDATA[PEMANFAATAN SAMPAH ORGANIK SECARA PADU MENJADI ALTERNATIF ENERGI :]]> LATHIFA RAHMAN / 14.2004.027 / TK Penulis EMMA APRIANI / 14.2004.032 / TK Dosen Pembimbing 1 Sirin Fairus, STP. MT Salafudin, ST. MSc
Peningkatan permintaan energi karena pertumbuhan populasi penduduk dan menipisnya sumber cadangan minyak dunia serta permasalahan emisi dari bahan bakar fosil memberikan tekanan kepada setiap negara untuk segera memproduksi dan menggunakan energi terbaharukan. Salah satu sumber energi alternatif tersebut adalah biogas. Gas ini berasal dari berbagai macam limbah organik seperti sampah biomassa, kotoran manusia, dan kotoran hewan yang dapat dimanfaatkan menjadi energi melalui proses anaerobic digestion. Dengan adanya pengelolaan sampah menjadi biogas ini, dapat mengurangi permasalahan minimnya energi sebagai akibat penggunaan sumber daya yang tak terbaharukan secara berlebihan. Biogas merupakan gas yang mudah terbakar, dimana kandungan utamanya adalah gas metana (CH4) dan karbondioksida (CO2), sebagian kecil gas hidrogen sulfida (H2S), nitrogen (N2), hidrogen (H2) dan karbon monoksida (CO). Pada penelitian ini dilakukan 3 variasi pengumpanan, yaitu campuran sampah organik padat cair dan kotoran sapi, sampah organik padat dan kotoran sapi, sampah organik cair dan kotoran sapi, serta umpan yang hanya terdiri dari kotoran sapi sebagai pembanding. Rasio komposisi sampah organik terhadap kotoran sapi adalah 1:1, dimana massa sampah organik yang diumpankan 100 gram dan kotoran sapi 100 gram. Data pengamatan difokuskan pada derajat keasaman (pH) yang mempengaruhi laju produksi biogas, volume biogas yang dihasilkan, dan gas CH4 dan karbondioksida (CO2). Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh produksi CH4 pada pengumpanan komposisi sampah organik padat sebesar 56,22% dari total produksi CH4 sampah organik padat-cair dan pada komposisi sampah organik cair sebesar 43,45% dari total produksi CH4 sampah organik padat-cair. Selain perhitungan volume biogas yang dihasilkan, dilakukan analisis nilai kalor terhadap precursor briket hasil pirolisis. Pada percobaan ini sampah organik padat dikeringkan pada suhu 105oC. Tahap pembentukan precursor briket dilakukan pada 3 variasi suhu yaitu 200oC, 300oC, dan 400oC dengan waktu pemanasan 1 jam, 2 jam, dan 3 jam. Diperoleh data bahwa nilai kalor tertinggi terdapat pada precursor briket pirolisis pada suhu 300oC dengan waktu pemanasan 3 jam yaitu 5596 kal/gram.