// <![CDATA[IDENTIFIKASI KESENJANGAN LOKASI TEMPAT TINGGAL DENGAN LOKASI TEMPAT KERJA PEKERJA INDUSTRI DI KOTAMADYA BANDUNG]]> SHINTA KUSUMAWATI / 2491043 Dosen Pembimbing 1 Ir. Benedictus Kombaitan, MSc. Ir. Reny Savitri
Penambahan jamlah industri tekstil dan garmen sebagai salah satu jenis industri manufaktur ringan di Kotamadya DT II Bandung memberikan dampak kepada penyerapan tenaga kerjanya. Tenaga kerja industri tekstil-garmen dari dalam dan berbagai daerah di luar Kota Bandung akan semakin meningkatkan kebutuhan perumahan bagi pekerjanya. Implilcasi dan keadaan tersebut antara lain menjadikan lakasi perumahan para pekerja tersebar di wilayah Kotamadya Bandung. Selain itu, lokasi tempat kerja yang juga beragam menyebabkan adanya kesenjangan jarak tempat tinggal-tempat kerja. Ketidaksenjangan jarak tempat kerja-tempat tinggal adalah jarak yang paling pendek (antara lokasi tempat kerya dengan lokasi tempat tinggal) untuk melakukan perjalanan bekerja, sehingga pelaku dapat menempuh dengan waktu yang sesingkat-singkatnya (disarikan dari Jobs-Housing Balancing and Regional Mobility, Robert Cervero). Kesenjangan jarak tempat tinggal-tempat kerja serta keanekaragam pola gerak pekerja menimbulkan asumsi adanya perpindahan lokasi tempat tinggal pekerja tekstil garmen mendekati lokasi tempat kerjanya. Hal ini dipengaruhi oleh karakteristik social ekonomi dan karaketeristik non sosial ekonomi tiap individu. Studi ini dilakukan guna melihat seberapa besar korelasi atau hubungan antara karakteriistik sosial-ekonomi dan karakteristik non sosial ekonomi terhadap perpindahan yang dilakukan pekerja. Hasil analisa menunjukkan bahwa karakteristik non sosial elanomi berupa variabel alasan perpindahan dan pemilihan lokasi tempat tinggal (yaitu alasan dekat tempat kerja, dekat tempat kerja istri/suami, alas an menikah, mempunyai rumah pribadi dan lain sebagainya) Iebih berpengaruh (mempunyai korelasi) dibandingkan karakteristik sosial-ekonomi pekerja (variable status pasangan dan variabel tingkat pendapatan) terhadap perpindahan tempat tinggal yang dilahirkannya. Selain itu, dilalatkan juga analisis antara lokasi tempat kerja dengan alasan perpindahan (sebagai variabel yang paling berpengaruh) untuk mengetahui seberapa besar pengaruh lokasi tempat kerja terhadap alasan perpindahan yang dipilih pekerja. Sedanglran alasan perpindahan yang paling banyak dipilih pekerja adalah alasan yang tidak merespon pada hipotesa studi, yaitu karena menikah, mempunyai rumah pribadi dan karena telah menempati rumahnya sejak lahir. Pekerja yang berpindah dan memilih alasan yang merespon pada kedekatan Iakasi rumah dengan lokasi tempat kerja disebut sebagai pekerja yang merespon perpindahannya. Pelaku yang demikian telah bertindak rasional dalam proses perpindahan. Sedangkan pekerja yang berpindah dengan beralasan lain (tidak merespon pada kedekatan lokasi rumah-tempat kerja) disebut sebagai pekerja yang tidak merespon perpindahan dan pelaku tersebut tidak bertindak rasional dalam proses perpindahannya. Lokasi perumahan pekerja tekstil-garmen yang melakukan perpindahan sebagian besar berada pada jarak senjang (di atas 4 km dari lokasi tempat kerja) dibandinglcan pekerja yang berdiam dalam jarak tidak senjang (sebesar 4 km atau kurang dari 4 km terhadap lokasi tempat kerja). Pada umumnya pekerja yang berpindah tidak berdasarkan alasan mendekati lokasi tempat kerjanya. Kesimpulan studi yang didapatkan tidak memperkuat hipotesa. Para pekerja tekstil dan garmen di Kotamadya Bandung tidak berpindah mendekati lokasi tempat kerianya (lokasi tempat kerja tidak berpengaruh terhadap perpindahan rumah pekerja). Mereka berpindah tidak mempersoalkan jarak melainkan disebabkan alasan-alasan lain yang tidak berhubungan dengan asumsi studi. Terdapat kesenjangan antara lokasi perumahan para pekerja tekstil dan garmen di Kotamadya Bandung dengan lokasi tempat kerjanya, sehingga masalah kemacetan terutama di ruas-ruas jalan utama penghubung lokasi rumah-tempat kerja semakin tidak dapat dihindari. Diharapkan adanya suatu peruntukan perumahan bagi para pekerja industri tekstil dan garmen yang dapat mendukung tokasi industrinya untuk saat ini dan pada masa yang akan datang sehingga ketidaksenjangan antara lokasi perumahan pekerja industri tekstil-garmen dengan lokasi tempat kerjanya dapat terwujud. Salah satu antisipssi terhadap masalah kemacetan adalah dengan menyeimbangkan antara kedua guna lahan tersebut.