PENATAAN KAMPUNG WISATA BAHARI (STUDI KASUS PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN BOJONEGARA, KABUPATEN SERANG)
Hampir dua per tiga bagian dari luas Negara Indonesia adalah perairan. Kondisi demikian menyebabkan banyak penduduk yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Nelayan adalah orang-orang yang mata pencaharian utamanya dari usaha menangkap ikan di laut. Di samping itu, mereka yang bermata pencaharian sebagai nelayan juga kebanyakan tinggal di dekat pantai dan membentuk suatu komunitas yang lebih dikenal dengan sebutan permukiman nelayan. Pemukiman mempunyai fungsi dan peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Pemukiman nelayan mempunyai masalah sendiri. Pada umumnya di permukiman nelayan menghadapi masalah kurangnya sarana dan prasarana yang dapat menyebabkan permukiman tersebut tidak layak huni. Di lain pihak permukiman nelayan juga mempunyai potensi yang sangat besar. Salah satunya adalah kemampuannya untuk dikembangkan sebagai objek wisata bahari. Dari permasalahan dan potensi yang dimiliki oleh pemukiman nelayan dapat diupayakan cara-cara untuk menanggulangi permasalahan tersebut sekaligus memanfaatkan potensi yang ada
Salah satu cara untuk menanggulangi permasalahan pemukiman nelayan serta memanfaatkan potensi yang ada adalah dengan merencanakan pemukiman nelayan tersebut menjadi objek wisata yaitu dengan pendekatan konsep kampung wisata bahari. Kampung wisata bahari ini memberikan suatu bentuk pengalaman wisata yang baru di mana turis atau wisatawan selain dapat menikmati keindahan alam juga dapat merasakan aktivitas sehari-hari masyarakat nelayan, pekerjaan melaut, dan aktivitas masyarakat di sekitar hutan alam. Hal ini merupakan objek wisata yang menarik. Kehidupan mereka belum menjadi bahan pemikiran untuk dikembangkan sebagai objek wisata. Nelayan-nelayan yang sedang berangkat melaut, menurunkan hasil tangkapan dari melaut, kegiatan transaksi hasil tangkapan yang secara dominan melibatkan kaum perempuan pesisir, perbaikan peralatan tangkap dan perahu, dan pembuatan perahu merupakan objek wisata yang menarik bagi masyarakat lain untuk memahami kehidupan nelayan. Konsep dasar penataan kampung wisata bahari ini adalah : Kampung Wisata bahari; Sebuah Pengalaman Kehidupan Laut yang Responsif. Kampung wisata yang responsif dibentuk oleh empat komponen kualitas yang saling berkaitan satu sama lain, yaitu aksesibilitas, keanekaragaman, kejelasan, dan kekuatan. Aksesibilitas dibentuk melalui tempat parkir dan jalur pejalan kaki. Keanekaragaman dibentuk oleh bermacam-macam tataguna lahan, yaitu pemukiman nelayan, aktivitas nelayan, dan aktivitas wisata. Kejelasan dibentuk oleh elemen fisik yaitu, edge (tepi), node (simpul), path (lintasan), dan landmark (ciri lingkungan). Kekuatan dibentuk oleh ruang terbuka dan sistem utilitas.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2007).PENATAAN KAMPUNG WISATA BAHARI (STUDI KASUS PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN BOJONEGARA, KABUPATEN SERANG) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.PENATAAN KAMPUNG WISATA BAHARI (STUDI KASUS PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN BOJONEGARA, KABUPATEN SERANG) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
MLA Style
.PENATAAN KAMPUNG WISATA BAHARI (STUDI KASUS PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN BOJONEGARA, KABUPATEN SERANG) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
Turabian Style
.PENATAAN KAMPUNG WISATA BAHARI (STUDI KASUS PERMUKIMAN NELAYAN KECAMATAN BOJONEGARA, KABUPATEN SERANG) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text