// <![CDATA[PENGARUH PERUBAHAN JUMLAH PENGUNJUNG TRHADAP PENDAPATAN PENGUSAHA KAWASAN WISATA BELANJA CIHAMPELAS SEBELUM DAN SETELAH ADANYA JALAN TOL CIPULARANG]]> Prarezeki Indra Muda - 241999032 Penulis AKHMAD SETIOBUDI, Ir., MT Penulis ANDRY KRISNALDI, ST.
Kemudahan pencapaian (aksesibilitas) dari suatu lokasi terhadap lokasi lainnya dapat dijadikan suatu indikator tentang kemampuan lokasi tersebut untuk berkembang. Suatu daerah yang memiliki faktor kemudahan pencapaian dan ketersediaan fasilitas perangkutan yang tinggi akan lebih cepat berkembang bila dibandingkan dengan daerah lain yang lebih rendah. Waktu tempuh perjalanan menjadi sangat penting, dimana waktu tempuh tersebut secara tidak langsung ataupun langsung berpengaruh terhadap percepatan pertumbuhan suatu daerah. Jarak tempuh yang jauh dapat menjadi hambatan berkembangnya suatu daerah, hal ini disebabkan waktu perjalanan menjadi lebih lama dan sulit untuk diprediksi waktunya. Jalan toll Cipularang merupakan jalan bebas hambatan yang menghubungkan Kota Jakarta sebagai Ibukota Republik Indonesia dengan Kota Bandung, dengan adanya jalan toll tersebut akan mempersingkat waktu tempuh antara Kota Jakarta dengan Kota Bandung. Sebelum adanya jalan toll Cipularang waktu tempuh Jakarta - Bandung memerlukan waktu sekitar ± 3,5 jam ( kondisi jalan raya normal ) , tetapi dengan adanya jalan toll Cipularang waktu perjalanan dapat ditempuh dengan ± 2,5 jam. Sebelum adanya Jalan tol Cipularang jumlah kendaraan yang keluar melalui pintu tol Pasteur berjumlah 19.627 kendaraan per hari pada hari biasa (Weekdays) dan 22.314 kendaraan perhari pada akhir pekan (Weekend), setelah adanya jalan tol Cipularang jumlah kendaraan yang keluar melalui pintu tol Pasteur meningkat menjadi 24.286 kendaraan perhari pada hari biasa (Weekdays) dan 27.797 kendaraan per hari pada akhir pekan (Weekend). Adanya Peningkatan jumlah kendaraan yang keluar melalui pintu tol Pasteur diikuti oleh peningkatan jumlah pengunjung (dilihat dari jumlah transaksi) di kawasan wisata belanja Cihampelas. Jumlah transaksi sebelum adanya jalan tol cipularang berjumlah 114 transaksi perhari pada hari biasa (Weekdays) dan 652 transaksi perhari pada akhir pekan (Weekend). Setelah adanya jalan tol Cipularang jumlah transaksi tersebut meningkat menjadi 286 transaksi per hari pada hari biasa (Weekdays) dan 1181 transaksi perhari pada akhir pekan (Weekend). Dalam studi ini akan dilakukan penelitian mengenai pengaruh perubahan jumlah pengunjung (dilihat dari jumlah transaksi) terhadap pendapatan pengusaha di kawasan wisata belanja Cihampelas sebelum dan setelah adanya jalan tol Cipularang. Analisis yang digunaakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif yaitu regresi linear sederhana dan pengujian beda rata-rata berpasangan serta membandingkan data jumlah transaksi dan jumlah pendapatan sebelum dan setelah adanya jalan tol Cipularang. Hasil dari studi ini adalah terdapat peningkatan jumlah transaksi dan jumlah pendapatan sebelum dan setelah adanya jalan tol Cipularang. Besar peningkatan jumlah transaksi adalah 172 transaksi perhari pada hari biasa (Weekdays) dan 529 pada akhir pekan (Weekend). Besar peningkatan pendapatan adalah Rp. 19,800,000 pada hari biasa (Weekdays) dan Rp. 67,300,000 pada akhir pekan (Weekend). Dari peningkatan jumlah transaksi dan jumlah pendapatan pengusaha tersebut di dapat pengaruh perubahan jumlah transaksi terhadap pendapatan pengusaha setelah adanya jalan tol Cipularang. Untuk hari biasa (Weekdays), setiap penambahan satu pengunjung (transaksi) di kawasan wisata belanja Cihampelas terjadi peningkatan sebesar Rp 22.825,4 setelah adanya jalan tol Cipularang. Untuk akhir pekan (Weekend), setiap penambahan satu pengunjung (transaksi) di kawasan wisata belanja Cihampelas terjadi peningkatan sebesar Rp 6.868,1 setelah adanya jalan tol Cipularang.