USULAN PENANGANAN KEMACETAN DI RUAS JALAN PAMANUKAN ( STUDI KASUS : JL. EYANG TIRTA PRAJA )
Ruas jalan Pamanukan merupakan salah satu pusat kegiatan utama Kota
Pamanukan. Ruas Jalan Pamanukan ini dibagi mejadi 3 ruas jalan, yang terdiri
dari ruas Jalan Pamanukan 1, ruas Jalan Pamanukan 2, dan ruas Jalan
Pamanukan 3. lokasi yang strategis di pusat kota menjadikan ruas Jalan
Pamanukan menjadi salah satu simpul transportasi utama, yang merupakan
sirkulasi di pusat kota dan pintu keluar masuk bagian utara Kota Subang.
Tingginya intensitas kegiatan dan besarnya volume lalu lintas yang melalui ruas
Jalan Pamanukan, mengakibatkan ketidakseimbangan antara sisi sediaan dengan
permintaan transportasi di ruas Jalan Pamanukan.
Kondisi tersebut telah menyebabkan terjadinya penurunan kinerja
jaringan jalan di ruas Jalan Pamanukan, sehingga tidak optimal dalam
mendukung pergerakan yang melalui ruas Jalan Pamanukan. Penurunan kinerja
jalan ini merupakan akibat dari persoalan lalu lintas yang terjadi di ruas Jalan
Pamanukan, dan dari hasil analisis diketahui persoalan ini disebabkan antara
lain oleh faktor pengurangan lebar efektif jalan, tingginya hambatan samping,
besarnya volume lalu lintas, dan percampuran antar moda. Pengukuran kinerja
jalan ini berdasarkan tinjauan dari sisi system lalu lintas (LOS, kecepatan
perjalanan, dan waktu tempuh), dan system aktivitas (besarnya bangkitan dan
tarikan oleh kegiatan perdagangan). Penurunan kinerja terburuk terjadi pada
ruas Jalan Pamanukan 2, dengan nilai VCR 1.04 pada saat jam sibuk sore.
Kecepatan dan waktu tempuh kendaraan yang melewati ruas Jalan Pamanukan
juga dalam kondisi buruk. Kecepatan rata-rata di seluruh ruas jalan hanya
sekitar 7.81 km/jam (pagi hari), 65 km/jam (siang hari), dan 6.09 km/jam (sore
hari), sedangkan ketentuan dalam PP No 26 Tahun 1992 tentang jalan, kecepatan
minimum untuk jalan dengan hirarki arteri primer adalah >60 km/jam. Dengan
kondisi tersebut, tidak jarang terjadi kemacetan pada saat jam puncak atau waktu
tertentu dan pada titik tertentu dengan kepadatan lalu lintas tinggi yaitu sekitar
33.33% hingga 66.66% pada saat jam sibuk.
Penanganan persoalan dilakukan dalam dua strategi, yaitu strategi
jangka pendek dan jangka panjang. Strategi jangka pendek merupakan
penanganan-penanganan yang dapat dilaksanakan dalam waktu yang singkat,
sedangkan strategi jangka panjang merupakan tindakan lanjutan dari strategi
jangka pendek, mengingat lamanya waktu dan besarnya sumber daya yang
dibutuhkan untuk mewujudkannya. Penanganan dengan strategi jangka pendek
terdiri atas penanganan PKL, perlengkapan jalan, dan pengaturan waktu.
Penanganan dengan strategi jangka panjang terdiri atas penurunan status dan
fungsi jalan, dan pengaturan jaringan jalan serta pemisah arus lalu lintas.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2007).USULAN PENANGANAN KEMACETAN DI RUAS JALAN PAMANUKAN ( STUDI KASUS : JL. EYANG TIRTA PRAJA ) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.USULAN PENANGANAN KEMACETAN DI RUAS JALAN PAMANUKAN ( STUDI KASUS : JL. EYANG TIRTA PRAJA ) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
MLA Style
.USULAN PENANGANAN KEMACETAN DI RUAS JALAN PAMANUKAN ( STUDI KASUS : JL. EYANG TIRTA PRAJA ) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text
Turabian Style
.USULAN PENANGANAN KEMACETAN DI RUAS JALAN PAMANUKAN ( STUDI KASUS : JL. EYANG TIRTA PRAJA ) ().Teknik Planologi:FTSP,2007.Text