// <![CDATA[KEMAMPUAN DAYA SAING KOTA-KOTA DI INDONESIA BERDASARKAN POTENSI FISIK LINGKUNGAN. ( STUDI KASUS IBUKOTA PROPINSI SELURUH INDONESIA )]]> ANGGA ARGIAN D. / 24.2002.041 / PL Penulis Yanti Budiyantini,Ir.,M.DevPlg Shinta kusumawati,ST
Globalisasi dan pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia, merupakan tantangan sekaligus peluang bagi Pemerintah Daerah dalam melaksanakan pembangunan dan pengelolaan kota bagi kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut mengindikasikan adanya peluang terjadinya kompetisi antar daerah. Keragaman potensi sumber daya alam, manusia, modal, dan kinerja pertumbuhan ekonomi yang telah dicapai saat ini, akan menjadi modal dasar dalam kompetisi antar daerah. Daerah-daerah dengan daya saing tinggi akan mampu membangun daerahnya dengan lebih baik, misalnya melalui tarikan investasi, tarikan tenaga kerja potensial, daya tariknya menjadi pusat ekonomi regional, maupun potensi-potensi lain yang akan menjadi modal pembangunan. Daerah-daerah tersebut akan mampu menggerakan ekonomi wilayahnya dalam rangka mensejahterakan masyarakatnya, dan lebih jauh, akan mampu berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan nasional. Tujuan dari studi ini adalah untuk menilai kemampuan daya saing suatu kota dalam mengelola pembangunannya, dibandingkan dengan kota lain dalam lingkup nasional.variabel yang digunakan dalam menilai kemapuan daya saing ini dibatasi menjadi 4 (empat) variabel, diantaranya variabel ketersediaan SDA, Aset Kota, Infrastruktur Transportasi, Infrastruktur Pendukung Kegiatan Bisnis. Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah Identifikasi pengelompokan kota dilihat dari tingkat daya saing kota berdasarkan potensi fisik lingkungan.Identifikasi pemeringkatan ibukota propinsi di Indonesia berdasarkan pengelompokan tingkat daya saing kota dan terjabarkannya kekuatan maupun kelemahan tiap kota di Indonesia berdasarkan potensi fisik-lingkungannya. Berdasarkan hasil analisis didapatkan 3 (tiga) kelompok Daya Saing yaitu Daya Saing Tinggi beranggotakan kota Jakarta, Sedang beranggotakan kota Bandung, dan Rendah 31 Ibukota kota selain Jakarta dan Bandung selain itu didapat pula pemeringkatan kota dari masing-masing kelompok daya saing, Sehingga diharapakan dengan diketahuinya hasil pemeringkatan dan nilai dari variabel pendukung daya saing suatu kota dibandingkan dengan kota lain dapat mendorong sebuah kota untuk berkompetisi dalam meningkatkan potensi kota guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat