// <![CDATA[PENENTUAN PERINGKAT OBJEK WISATA BERDASARKAN FAKTOR DAYA TARIK WISATA DI KECAMATAN PANGALENGAN.]]> RUSTANTO / 24.2002.045 Dosen Pembimbing 1 Widya Suryadini, S.T.,M.T. Dosen Pembimbing 1 Dine Firtianti, S.T. Dosen Pembimbing 2
Pariwisata merupakan salah satu sektor penting dan prospektif dalam bidang ekonomi karena pertumbuhannya yang sangat pesat dan didukung potensi sumber daya yang besar. Pemekaran Kabupaten Bandung Barat (KBB) dari wilayah Kabupaten Bandung menyisakan kendala, yaitu penurunan pendapatan asli daerah (PAD) Kabupaten Bandung dari sektor pariwisata, yaitu hotel, restoran, dan retribusi masuk objek wisata. Untuk mengantisipasi merosotnya PAD dari sektor pariwisata dan minimnya dana dalam pembangunan kepariwisataan di Bandung Selatan, Pemkab Bandung berencana membangun kawasan wisata terpadu Bandung Selatan agar menjadi daerah tujuan wisata. Pada kenyatannya dalam potensi sektor pariwisata di Kecamatan Pengalengan ini ternyata masih mempunyai kendala dalam hal pemanfaatan objek dan daya tarik wisata. Hal ini terlihat dari kurangnya parasarana dan sarana wisata disetiap lokasi objek wisata karena minimnya alokasi dana dalam pengembangan objek wisata di Kecamatan Pengalengan, serta Pemkab Bandung belum mempunyai mempunyai kemenarikan lokasi objek wisata berdasarkan daya tarik wisata di Kecamatan Pengalengan. Hal ini yang menjadi pokok permasalahan, oleh karena itu muncul pertanyaan penelitian: “bagaimana peringkat objek wisata di Kecamatan Pengalengan berdasarkan faktor daya tarik wisata, agar dapat memberi masukan kepada pemerintah daerah dalam langkah pengembangan objek wisata ?”. Untuk mencapai tujuan dalam menentukan peringkat objek wisata di Kecamatan Pengalengan berdasarkan lima faktor daya tarik wisata, yaitu 1) tingkat kemudahan pencapaian, 2) tingkat pelayanan fasilitas wisata, 3) pemandangan dan keindahan alam, 4) fungsi lokasi wisata dalam kegiatan wisata, dan 5) keanekaragaman jenis aktivitas wisata, maka dirumuskan tahapan analisis, yaitu penilaian daya tarik wisata dengan batas interval kedalam hirarki tinggi, sedang dan rendah yang menghasilkan skor. Menentukan batas parameter daya tarik wisata dengan Z skor dari hasil skor batas interval yang menghasilkan angka besaran kualifikasi tinggi, sedang, dan rendah, kemudian penentuan peringkat objek wisata dari hasil kualifikasi dengan metode Skalogram Guttman. Berdasarkan hasil analisis, maka diperoleh urutan peringkat objek wisata dari yang paling menarik sampai ke objek wisata yang kurang menarik di Kecamatan Pengalengan, yaitu Situ Cileunca, Perkebunan Teh Malabar, Air Panas Cibolang, Tirta Camelia, Situ Gede, dan Tirta Bidadari. Kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian penentuan peringkat objek wisata berdasarkan faktor daya tarik wisata adalah objek wisata Situ Cileunca sebagai objek wisata yang paling menarik dan faktor penentu daya tarik wisata yang menentukan adalah tingkat kemudahan pencapaian, tingkat pelayanan fasilitas wisata, dan keanekaragaman jenis aktivitas wisata serta diperlukannya upaya peningkatan setiap faktor daya tarik wisata di Kecamatan Pengalengan. Hasil peringkat objek wisata menjadi masukan bagi pemerintah daerah Kabupaten Bandung dalam langkah pengembangan objek dan daya tarik wisata di Kecamatan Pengalengan, sehingga dengan pengembangan prioritas objek wisata, maka Bandung Selatan akan menjadi daerah andalan dalam kontribusi pendapatan asli daerah Kabupaten Bandung dan menjadi alternatif baru daerah tujuan wisata yang lebih maju di Kawasan Bandung Selatan.