// <![CDATA[STUDI JANGKAUAN PELAYANAN PUSAT PERBELANJAAN SKALA KOTA DI KOTA BANDUNG.]]> ANTONIUS J. NADEAK / 24.2006.035 / PL Dosen Pembimbing 1
Pertumbuhan penduduk dan perkembangan perekonomian, telah merubah Kota Bandung menjadi sebuah kota dengan penuh aktivitas perkotaan. Salah satu aktivitas tersebut adalah munculnya pusat perbelanjaan dengan pertumbuhan yang cepat. Lokasi pusat perbelanjaan yang muncul seringkali tidak terencana dan tidak memiliki konsep tertentu. Beberapa tahun terakhir, muncul pusat perbelanjaan baru dengan berbagai konsep dan berbagai bentuk dan kemunculan dari pusat perbelanjaan ini dirasakan mulai terlalu padat dan oversupply (melebihi kebutuhan), walaupun memberikan banyak keuntungan, tetapi pusat perbelanjaan juga memberikan banyak masalah bagi kota, seperti kemacetan dan memunculkan sektor informal seperti PKL dan hal ini perlu untuk dianalisa dan diatasi. Tingkat pelayanan pusat perbelanjaan dapat digambarkan melalui jangkauan pelayanan yang dimiliki oleh sebuah pusat perbelanjaan sehingga dibutuhkan sebuah studi tentang jangkauan pelayanan pusat perbelanjaan dan analisis terhadap lokasi eksisting pusat perbelanjaan tersebut, dibandingkan dengan konsep rencana dan lokasi secara teoritis, untuk menuju suatu pusat perbelanjaan yang lebih teratur dan terencana. Studi ini adalah studi mengenai jangkauan pelayanan pusat perbelanjaan di Kota Bandung, khususnya pusat perbelanjaan skala kota. Jangkauan pelayanan pusat perbelanjaan menunjukkan potensi dari wilayah yang dapat dijangkau oleh sebuah pusat perbelanjaan dan juga jangkauan eksisting dari pusat perbelanjaan saat ini. Studi ini menganalisis 6 buah pusat perbelanjaan skala kota, pusat perbelanjaan tersebut meliputi BIP, King’s Shopping Center, BSM, Istana Plaza, Paris Van Java dan Metro Trade Center (MTC). Teknik yang digunakan di dalam studi ini adalah Teknik Applebaum, sebuah teknik khusus untuk menghitung jangkauan pelayanan suatu pusat perbelanjaan. Berdasarkan hasil studi, rata-rata jangkauan pelayanan pusat perbelanjaan skala kota yang dikaji adalah sebesar 8,39 km dengan urutan dari terbesar adalah PVJ, IP, MTC, BIP, King’s dan BSM. Jangkauan primer dan sekunder terbesar adalah PVJ yaitu 11,2 km dan jangkauan tersier terbesar adalah IP dengan 14,46 km. Wilayah pelayanan primer meliputi hampir seluruh Kota Bandung, kecuali Kecamatan Cibiru sedangkan wilayah pelayanan sekunder dan tersier meliputi seluruh Kota Bandung. Berdasarkan hasil studi juga dapat disimpulkan bahwa terjadi tumpang tindih pelayanan pada pusat perbelanjaan skala kota di Kota Bandung, dan ini menunjukkan adanya kelebihan dan inefisiensi pusat perbelanjaan. Secara keseluruhan wilayah Kota Bandung telah dilayani oleh pusat perbelanjaan skala kota yang dikaji. Jika dilihat dari lokasi, banyak pusat perbelanjaan tersebut yang kurang sesuai lokasinya, terutama terhadap Rencana Struktur Ruang Kota Bandung. Rekomendasi berdasarkan hasil studi ini adalah bahwa perlu penataan terhadap lokasi pusat perbelanjaan sebelum dan sesudah munculnya pusat perbelanjaan, baik kepada pemerintah maupun swasta dan lokasi harus sesuai dengan rencana yang ada.