// <![CDATA[UPAYA PENGEMBANGAN AGROWISATA DI KECAMATAN RANCABALI]]> NOLA NURAFNI RIANTARI / 24.2005.021 Dosen Pembimbing 1 Dine Firtianti, ST. Achadiat Dritasto, Ir., MT. Penulis
Agrowisata sebagai bagian dari objek wisata, diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Kecamatan Rancabali mempunyai daya tarik wisata yang dapat dijadikan pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Bandung. Selama ini pemerintah Kabupaten Bandung lebih memfokuskan pengembangan wisatanya di Kecamatan Lembang. Sedangkan kini Kecamatan Lembang telah menjadi bagian dalam Wilayah Kabupaten Bandung Barat, sehingga Kecamatan Rancabali menjadi salah satu daerah yang perlu dikembangkan dan menjadi andalan daerah wisata di Kabupaten Bandung.Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui upaya pengembangan agrowisata di Kecamatan Rancabali sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Kabupaten Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk melihat prioritas pengembangan. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan analisis yang dilakukan maka dapat di tarik simpulan bahwa Jenis agrowisata yang berpotensi di kembangkan di Kecamatan Rancabali adalah agrowisata buah-buahan, agrowisata sayuran, agrowisata tanaman hias dan agrowisata tanaman herbal. dan agrowisata perkebunan teh. Kegiatan agrowisata potensial yang dapat dikembangkan di setiap agrowisata berbeda-beda. Kegiatan agrowisata terdiri dari menanam, merawat, memanen, pengolahan, wisata belanja, wisata keliling kebun dan pengetahuan jenis tanaman. Untuk mengembangakan agrowisata dan kegiatan agrowisata perlu didukung oleh infrastruktur yang baik. Untuk pengembangan agrowisata diperlukan prioritas pengembangan dengan menggunakan metode AHP. Pengerjaan metode AHP ini dilakukan dengan menggunakan alternatif pengembangan yaitu berupa aspek pendukung agrowisata yang terdiri dari aksesibilitas, sarana dan prasarana serta informasi dan promosi. Hasil dari AHP adalah sebagai berikut yang menjadi prioritas utama adalah aksesibilitas dengan bobot 50%; prioritas selanjutnya yaitu sarana dan prasarana dan informasi dan promosi yang memiliki bobot prioritas yang sama yaitu 25%, ini menandakan kedua aspek ini memiliki kepentingan yang sama.