// <![CDATA[PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS :]]> ELVINSYAH PUTRA NASUTION / 24.2006.043 Dosen Pembimbing 1 Zulfadly Urufi, S.T., M.Eng
Sebagian besar penduduk di perdesaan memiliki mata pencaharian di sektor pertanian. Pembangunan pertanian dan pedesaan, yang pada dasarnya potensial untuk mengatasi masalah pengganguran dan kemiskinan ternyata masih berjalan lamban, dimana ketersediaan lahannya terbatas sehingga mempersulit upaya mengatasi kedua masalah tersebut. Kemiskinan dan penganguran yang relatif tinggi cenderung semakin meningkatkan praktik usaha tani yang tidak berkelanjutan, sehingga meningkatkan degradasi lahan dan mendorong perambahan hutan. Keadaan geografis Desa Cibodas dan Desa Suntenjaya Kabupaten Bandung Barat memungkinkan perkembangan perkotaan berlangsung cepat sehingga mengakibatkan lahan pertanian menjadi berkurang, oleh sebab itu para petani cenderung melakukan praktik usaha tani yang tidak berkelanjutan karena bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Tujuan studi ini adalah menilai tingkat keberlanjutan (sustainable assessment) pengelolaan sumberdaya perdesaan dominan, yaitu tanaman hortikultura, tanaman pangan, dan peternakan yang dinilai berdasarkan pada dimensi ekologi. Variabel penilaian meliputi (1) Ketersediaan air (2) Kejadian banjir (3) Kestabilan erosi dan longsor (4) Daya tahan hama penyakit (5) Kesuburan tanah. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis frekuensi distribusi yang selanjutnya dibuat skoring untuk setiap jenis pemanfaatan. Hasil analisis menunjukan bahwa setiap jenis pemanfaatan memiliki nilai skor beragam yaitu jenis pemanfaatan peternakan menunjukan nilai berkelanjutan dengan skor 14. Pada peternakan Desa Cibodas, ketersediaan pakan hijau masih terbatas pada musim kemarau, sedangkan pada peternakan Desa Suntenjaya ada beberapa peternakan yang masih kurang dalam persyaratan pendukung peternakan. Selanjutnya jenis pemanfaatan tanaman pangan yang memiliki nilai skor 13, untuk tanaman pangan sendiri memiliki karakteristik tidak terlalu membutuhkan banyak air. Dari pemakaian input pertanian seperti penggunaan pestisida, dan pupuk cenderung tidak terlalu besar. Pemanfaatan tanaman hortikultura menunjukan nilai keberlanjutan dengan skor 12 karena secara ekologi hortikultura membutuhkan banyak air, dan diperlukan pengunaan input pertanian berupa pupuk kimia, pestisida dalam jumlah besar yang dapat menyebabkan penurunan kemampuan dan kesuburan alami tanah secara ekologi dalam waktu jangka panjang. Pengelolaan sumber daya perdesaan perlu memadukan kemampuan ekologi dalam menghasilkan produksi agar dicapai optimasi dan keberlanjutan yang bermanfaat untuk jangka pendek maupun jangka panjang dengan cara memberikan pengarahan terhadap para pelaku pertanian untuk menerapkan pengelolaan usaha pertanian yang berkelanjutan, penyediaan air bagi kegiatan pertanian dan menyediakan lahan untuk ketersediaan pakan hijau ternak guna mendukung keberlanjutan pemanfaatan sektor pertanian sebagai salah satu sumberdaya perdesaan.