PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS : DESA CIBODAS DAN DESA SUNTENJAYA)
Sebagian besar penduduk di perdesaan memiliki mata pencaharian di sektor
pertanian. Pembangunan pertanian dan pedesaan, yang pada dasarnya potensial untuk
mengatasi masalah pengganguran dan kemiskinan ternyata masih berjalan lamban,
dimana ketersediaan lahannya terbatas sehingga mempersulit upaya mengatasi kedua
masalah tersebut. Kemiskinan dan penganguran yang relatif tinggi cenderung semakin
meningkatkan praktik usaha tani yang tidak berkelanjutan, sehingga meningkatkan
degradasi lahan dan mendorong perambahan hutan. Keadaan geografis Desa Cibodas
dan Desa Suntenjaya Kabupaten Bandung Barat memungkinkan perkembangan
perkotaan berlangsung cepat sehingga mengakibatkan lahan pertanian menjadi
berkurang, oleh sebab itu para petani cenderung melakukan praktik usaha tani yang
tidak berkelanjutan karena bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Tujuan studi ini adalah menilai tingkat keberlanjutan (sustainable assessment)
pengelolaan sumberdaya perdesaan dominan, yaitu tanaman hortikultura, tanaman
pangan, dan peternakan yang dinilai berdasarkan pada dimensi ekologi. Variabel
penilaian meliputi (1) Ketersediaan air (2) Kejadian banjir (3) Kestabilan erosi dan
longsor (4) Daya tahan hama penyakit (5) Kesuburan tanah. Metode penelitian yang
digunakan adalah analisis frekuensi distribusi yang selanjutnya dibuat skoring untuk
setiap jenis pemanfaatan.
Hasil analisis menunjukan bahwa setiap jenis pemanfaatan memiliki nilai skor
beragam yaitu jenis pemanfaatan peternakan menunjukan nilai berkelanjutan dengan
skor 14. Pada peternakan Desa Cibodas, ketersediaan pakan hijau masih terbatas pada
musim kemarau, sedangkan pada peternakan Desa Suntenjaya ada beberapa
peternakan yang masih kurang dalam persyaratan pendukung peternakan. Selanjutnya
jenis pemanfaatan tanaman pangan yang memiliki nilai skor 13, untuk tanaman pangan
sendiri memiliki karakteristik tidak terlalu membutuhkan banyak air. Dari pemakaian
input pertanian seperti penggunaan pestisida, dan pupuk cenderung tidak terlalu besar.
Pemanfaatan tanaman hortikultura menunjukan nilai keberlanjutan dengan skor 12
karena secara ekologi hortikultura membutuhkan banyak air, dan diperlukan
pengunaan input pertanian berupa pupuk kimia, pestisida dalam jumlah besar yang
dapat menyebabkan penurunan kemampuan dan kesuburan alami tanah secara ekologi
dalam waktu jangka panjang.
Pengelolaan sumber daya perdesaan perlu memadukan kemampuan ekologi
dalam menghasilkan produksi agar dicapai optimasi dan keberlanjutan yang
bermanfaat untuk jangka pendek maupun jangka panjang dengan cara memberikan
pengarahan terhadap para pelaku pertanian untuk menerapkan pengelolaan usaha
pertanian yang berkelanjutan, penyediaan air bagi kegiatan pertanian dan menyediakan
lahan untuk ketersediaan pakan hijau ternak guna mendukung keberlanjutan
pemanfaatan sektor pertanian sebagai salah satu sumberdaya perdesaan.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2010).PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS : DESA CIBODAS DAN DESA SUNTENJAYA) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS : DESA CIBODAS DAN DESA SUNTENJAYA) ().Teknik Planologi:FTSP,2010.Text
MLA Style
.PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS : DESA CIBODAS DAN DESA SUNTENJAYA) ().Teknik Planologi:FTSP,2010.Text
Turabian Style
.PENILAIAN TINGKAT KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN SUMBERDAYA PERDESAAN PADA DIMENSI EKONOMI (STUDI KASUS : DESA CIBODAS DAN DESA SUNTENJAYA) ().Teknik Planologi:FTSP,2010.Text