// <![CDATA[PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS :]]> GUNAWAN / 24 2006 020 Dosen Pembimbing 1 Akhmad Setiobudi, Ir., M.T Andry Krisnaldy, S.T.,M.T
Daerah aliran sungai yang merupakan satu kesatuan ekosistem terdiri dari komponen sistem fisik, sistem biologis dan sistem manusia. Manusia sebagai salah satu komponen utama dalam DAS sangat berpengaruh terhadap kualitas ekosistem DAS. Meningkatnya kebutuhan lahan untuk menunjang aktfitas manusia baik itu berupa penggunaan lahan terbangun ataupun non terbangun dapat menyebabkan perubahan ekosistem DAS. Salah satu DAS yang mengalami proses urbanisasi adalah DAS Ciliwung. DAS Ciliwung yang berhulu di kawasan Puncak Bogor dan bermuara di Teluk Jakarta memiliki potensi bencana banjir. Meningkatnya kebutuhan lahan di bagian hulu DAS Ciliwung mengakibatkan terjadi perubahan penggunaan lahan dari lahan bertanaman (permeable) menuju ke lahan impermeable. Salah satu sub DAS yang ada di Sungai Ciliwung Hulu adalah Sub DAS Cisarua. Sub DAS Ciarua memiliki fungsi sebagai kawasan perlindungan bagi wilayah bawahnya. Berkaitan dengan hal ini maka perlu di rumuskan arahan intensitas pemanfaatan lahan di Sub DAS Cisarua dengan mempertimbangkan kapasitas maksimum limpasan dan kondisi fisik yang ada. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan arahan tentang intensitas pemanfaatan ruang pada Sub DAS Cisarua, berupa koefisien dasar bangunan (KDB), koefisien dasar hijau (KDH), dan koefisien wilayah terbangun (KWT). Untuk mencapai tujuan tersebut maka ditetapkan lima sasaran yaitu, (1) teridentifikasinya kebijakan tata ruang Sub DAS Cisarua, (2) teridentifikasinya intensitas pemanfaatan ruang eksisting di Sub DAS Cisarua, (3) teridentifikasinya ketentuan aliran permukaan yang diijinkan untuk Sub DAS Cisarua, (4) Teridentifikasinya aspek yang dipertimbangkan dalam perumusan arahan intensitas bangunan, dan (5) Terumuskannya arahan intensitas bangunan di Sub DAS Cisarua. Berdasarkan temuan studi diketahui limpasan air permukaan dari penggunaan lahan eksisting telah melewati batas maksimum limpasan pada Sub DAS Cisarua yang ditetapkan berdasarkan status siaga pada Pintu Katulampa yaitu sebesar 13,2 m3/detik. Penggunaan lahan yang memiliki kontribusi terbesar pada limpasan air di Sub DAS Cisarua adalah lahan pertanian dengan besar limpasan 20,6 m3/detik, sedangkan untuk permukiman besar limpasan 6.02 m3/detik dan hutan adalah 9,56 m3/detik. Arahan untuk intensitas pemanfaatan ruang di Sub DAS Cisarua dibagi dalam 3 blok pada zona budidaya. Intensitas pemanfaatan ruang di tiap blok di klasifikasikan sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan bangunan rendah-sedang, hal ini sesuai dengan peran Sub DAS Cisarua sebagai daerah resapan. Debit limpasan air setelah dilakukan rencana KWT yaitu 16,4 m3/detik untuk kawasan terbangun sedangkan totalnya adalah 47,6 m3/detik, kondisi debit limpasan air masih lebih besar dari debit maksimum Sub DAS Cisarua,hal ini dikarenakan kontribusi limpasan terbesar dari lahan pertanian dan perkebunan. Oleh karena itu, selain arahan intensitas pemanfaatan ruang, pengendalian debit limpasan air memerlukan arahan dalam pengelolaan penggunaan lahan disetiap jenis penggunaan lahan seperti kawasan permukiman, kawasan lindung dan pertanian dengan rekayasa teknik. Pemerintah juga dapat melakukan pengendalian dengan penerapan konsep insenftif dan disinsentif dalam pemanfaatan lahan.