PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS : SUB DAS CISARUA)
Daerah aliran sungai yang merupakan satu kesatuan ekosistem terdiri dari
komponen sistem fisik, sistem biologis dan sistem manusia. Manusia sebagai salah
satu komponen utama dalam DAS sangat berpengaruh terhadap kualitas ekosistem
DAS. Meningkatnya kebutuhan lahan untuk menunjang aktfitas manusia baik itu
berupa penggunaan lahan terbangun ataupun non terbangun dapat menyebabkan
perubahan ekosistem DAS. Salah satu DAS yang mengalami proses urbanisasi
adalah DAS Ciliwung.
DAS Ciliwung yang berhulu di kawasan Puncak Bogor dan bermuara di
Teluk Jakarta memiliki potensi bencana banjir. Meningkatnya kebutuhan lahan di
bagian hulu DAS Ciliwung mengakibatkan terjadi perubahan penggunaan lahan
dari lahan bertanaman (permeable) menuju ke lahan impermeable. Salah satu sub
DAS yang ada di Sungai Ciliwung Hulu adalah Sub DAS Cisarua. Sub DAS Ciarua
memiliki fungsi sebagai kawasan perlindungan bagi wilayah bawahnya. Berkaitan
dengan hal ini maka perlu di rumuskan arahan intensitas pemanfaatan lahan di Sub
DAS Cisarua dengan mempertimbangkan kapasitas maksimum limpasan dan kondisi
fisik yang ada.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan arahan tentang
intensitas pemanfaatan ruang pada Sub DAS Cisarua, berupa koefisien dasar
bangunan (KDB), koefisien dasar hijau (KDH), dan koefisien wilayah terbangun
(KWT). Untuk mencapai tujuan tersebut maka ditetapkan lima sasaran yaitu, (1)
teridentifikasinya kebijakan tata ruang Sub DAS Cisarua, (2) teridentifikasinya
intensitas pemanfaatan ruang eksisting di Sub DAS Cisarua, (3) teridentifikasinya
ketentuan aliran permukaan yang diijinkan untuk Sub DAS Cisarua, (4)
Teridentifikasinya aspek yang dipertimbangkan dalam perumusan arahan intensitas
bangunan, dan (5) Terumuskannya arahan intensitas bangunan di Sub DAS Cisarua.
Berdasarkan temuan studi diketahui limpasan air permukaan dari
penggunaan lahan eksisting telah melewati batas maksimum limpasan pada Sub
DAS Cisarua yang ditetapkan berdasarkan status siaga pada Pintu Katulampa yaitu
sebesar 13,2 m3/detik. Penggunaan lahan yang memiliki kontribusi terbesar pada
limpasan air di Sub DAS Cisarua adalah lahan pertanian dengan besar limpasan
20,6 m3/detik, sedangkan untuk permukiman besar limpasan 6.02 m3/detik dan hutan
adalah 9,56 m3/detik. Arahan untuk intensitas pemanfaatan ruang di Sub DAS
Cisarua dibagi dalam 3 blok pada zona budidaya. Intensitas pemanfaatan ruang di
tiap blok di klasifikasikan sebagai kawasan dengan tingkat kepadatan bangunan
rendah-sedang, hal ini sesuai dengan peran Sub DAS Cisarua sebagai daerah
resapan. Debit limpasan air setelah dilakukan rencana KWT yaitu 16,4 m3/detik
untuk kawasan terbangun sedangkan totalnya adalah 47,6 m3/detik, kondisi debit
limpasan air masih lebih besar dari debit maksimum Sub DAS Cisarua,hal ini
dikarenakan kontribusi limpasan terbesar dari lahan pertanian dan perkebunan.
Oleh karena itu, selain arahan intensitas pemanfaatan ruang, pengendalian
debit limpasan air memerlukan arahan dalam pengelolaan penggunaan lahan
disetiap jenis penggunaan lahan seperti kawasan permukiman, kawasan lindung dan
pertanian dengan rekayasa teknik. Pemerintah juga dapat melakukan pengendalian
dengan penerapan konsep insenftif dan disinsentif dalam pemanfaatan lahan.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2011).PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS : SUB DAS CISARUA) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS : SUB DAS CISARUA) ().Teknik Planologi:FTSP,2011.Text
MLA Style
.PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS : SUB DAS CISARUA) ().Teknik Planologi:FTSP,2011.Text
Turabian Style
.PENGENDALIAN PEMANFAATAN RUANG DI DAS CILIWUNG HULU (STUDI KASUS : SUB DAS CISARUA) ().Teknik Planologi:FTSP,2011.Text