// <![CDATA[IDENTIFIKASI TINGKAT KETERGANTUNGAN ZONA SUB PUSAT KAWASAN METROPOLITAN BANDUNG BERDASARKAN POLA PERGERAKAN BEKERJA DAN BERBELANJA PENDUDUK]]> TIAVANI ANGGIANA N / 24.2007.011 Dosen Pembimbing 1 Ira Irawati, ST., MT Salahudin, ST., Msi
Kawasan metropolitan tumbuh sebagai suatu inti atau pusat daripada kegiatan yang mewakili aktifitas penduduk secara nasional. Kawasan metropolitan secara umum terdiri dari kota inti dan sub wilayah yang memiliki hirarki dengan fungsi tertentu. Fungsi yang berbeda di tiap zona dalam kawasan Metropolitan Bandung menjadikan adanya hubungan ketergantungan antar wilayahnya. Hal tersebut dikarenakan adanya kebutuhan yang belum atau tidak dapat dipenuhi oleh wilayah itu sendiri. Pola Pergerakan Belanja dan Bekerja merupakan salah satu variabel untuk melihat keterkaitan dan hubungan ketergantungan wilayah dalam Kawasan Metropolitan Bandung. Metode penelitian yang digunkan adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Analisis ketergatungan zona sub pusat dilakukan dengan melakukan analsis ketergantungan yang melihat pada preferensi pergerakan baik bekerja ataupun belanja dan melakukan analsis korelasi untuk mengetahui variabel yang berhubungan dengan pola pergerakan belanja dan bekerja penduduk. Zona Inti menanggung beban yang cukup tinggi atas pola pergerakan belanja penduduk zona sub pusat. Hal tersebut terlihat dari tingkat ketergantungan berdasarkan pola pergerakan bekerja yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan tingkat ketergantungan berdasarkan pola pergerakan belanja. Pola pergerakan bekerja penduduk berdasarkan analisis cenderung menempuh jarak yang dekat, hal ini terjadi karena penduduk menyesuaikan tempat tinggal dengan tempat bekerja. Jarak tempuh yang singkat menjadikan waktu dan biaya baik untuk angkutan umum dan BBM juga lebih rendah sehingga tingkat pengasilan yang didapatkan akan lebih besar. Fenomena tersebut seharusnya diimbangi dengan pembangunan kawasan perumahan di zona sub pusat. Pola pergerakan penduduk untuk berbelanja berdasarkan analisis cenderung ditentukan dengan kebutuhan yang dibutuhkan. Penduduk yang memiliki penghasilan lebih besar memiliki kemampuan lebih untuk memilih lokasi pemenuhan kebutuhan dengan kualitas dan kuantitas yag lebih baik. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa penghasilan menjadi salah satu penentu pola pergerakan penduduk. Penambahan fasilitas belanja dengan kualitas barang dan mutu pelayanan yang lebih baik serta sebaran yang merata menjadi salah satu upaya untuk mengurangi tingkat ketergantungan