// <![CDATA[PENINGKATAN PERAN ANGKUTAN UMUM DI DAERAH PERKOTAAN (STUDI KASUS KOTA BANDUNG)]]> R. NOORIEN ANNISHA FITRYA. R / 24 2007 020 Penulis Suwardjoko P. Warpani, Ir., MTCP Wenny Gustamola, S.T., M.T
Pertumbuhan penduduk dan perkembangan Kota Bandung yang terus berlangsung, telah meningkatkan berbagai macam kegiatan di dalamnya. Tingginya kegiatan yang dilakukan masyarakat tentu saja membuat pergerakan semakin meningkat, karena setiap kegiatan pasti butuh pergerakan untuk menunjangnya. Tingginya pergerakan pasti membutuhkan moda transportasi yang efektif, efisien dan handal. Angkutan kota yang awalnya diselenggarakan untuk memenuhi pergerakan masyarakat nyatanya belum dapat melayani pergerakan masyarakat dengan baik. Angkutan kota yang disediakan justru memiliki kinerja pelayanan yang rendah, hal tersebut tentu saja membuat masyarakat lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Pemilihan moda tersebut tentu saja menyebabkan penggunaan kendaraan pribadi menjadi tidak efisien, dalam satu ruas jalan terdapat satu kendaraan pribadi hanya diisi 2-3 penumpang yang tentu saja tidak efisien. Semakin meningkatnya volume lalu lintas di Kota Bandung harus segera diatasi, salah satunya adalah peningkatan peran angkutan umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengurangi masalah yang timbul dari kemacetan, seperti penambahan biaya dan kerugian material. Untuk tujuan tersebut dilakukan studi mengenai kinerja pelayanan angkutan umum, yaitu waktu tempuh, kecepatan, faktor muat, penghasilan dan kondisi lapangan seperti guna lahan, kondisi kendaraan, supir dan tarif. Penelitian berdasarkan variabel-variabel tersebut dilakukan dengan survei langsung dan kemudian dideskripsikan sesuai dengan gambaran yang berada di lapangan dan dibandingkan dengan standar yang telah ditetapkan. Dari hasil analisis diketahui bahwa trayek angkutan kota yang menjadi studi penelitian mempunyai kinerja pelayanan di bawah standar yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dan disesuaikan dengan standar pelayanan yang ditetapkan, maka waktu tempuh rata-rata pada enam trayek tersebut berkisar 3-4 jam, kecepatan rata-rata 11Km/Jam, dan berdasarkan hasil perhitungan hanya satu trayek yang mendapatkan keuntungan, satu trayek impas sedangkan untuk 4 trayek lainnya mengalami kerugian serta untuk keadaan kendaraan kondisi kendaraan hampir 50% kendaraan kondisnya buruk, tarif yang diminta tidak sesuai dengan ketetapan, supir angkutan umum yang menyalahi aturan, pengangkutan penumpang melebihi kapasitas pada jam-jam tertentu dan penyimpangan rute yang dilakukan oleh supir. Peningkatan kinerja angkutan umum seperti pengaturan jarak iring dan jumlah kendaraan angkutan, perlunya penetapan tarif, peremajaan angkutan, pengaturan kendaraan pribadi, peninjauan ulang faktor muat, merubahan sistem pengelolaan angkutan umum serta pengawasan terhadap angkutan kota perlu dilakukan. Pengaturan hal-hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan peran angkutan umum di daerah perkotaan, yang nantinya dapat melancarakan mobilitas.