IDENTIFIKASI TINGKAT KEMAMPUAN DAN KESEDIAAN MEMBAYAR MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DALAM KEPEMILIKAN RUMAH SUSUN (STUDI KASUS: KELURAHAN CICADAS)
Permasalahan kebutuhan lahan untuk perumahan sering dikaitkan dengan keterbatasan lahan di perkotaan. Untuk menghadapi permasalahan tersebut, pembangunan perumahan kearah vertikal merupakan alternatif untuk dikembangkan diperkotaan guna meminimalisir penggunaan lahan di perkotaan yang semakin berkurang. Salah satu rencana strategis percepatan pembangunan rumah susun nasional di Indonesia, termasuk di Kota Bandung.
Ditengah semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat akan tempat tinggal, saat ini banyak terdapat proyek pembangunan rumah susun di Indonesia yang justru dinikmati oleh kalangan yang bukan merupakan sasaran pembangunan rumah susun, yaitu Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Pergeseran sasaran penghuni rumah susun ini terjadi karena tarif yang harus dikeluarkan oleh MBR tersebut dirasa terlalu mahal. Selama ini aspek kebutuhan menjadi pertimbangan utama pemerintah dalam melakukan program pembangunan perumahan tanpa memperhatikan aspek keterjangkauan masyarakat sasaran. Oleh karena itu, peneliti melakukan kajian mengenai tingkat keterjangkauan masyarakat dalam membayar rumah susun yaitu tingkat kemampuan dan kesediaan membayar MBR di salah satu lokasi yang direncanakan untuk pembangunan rumah susun di Kota Bandung, yaitu di Kelurahan Cicadas, Kecamatan Cibeunying Kidul.
Hasil studi terhadap kemampuan dan kesediaan membayar MBR dalam kepemilikan Rumah Susun Sederhana Sewa (Rusunawa) tipe 21 adalah 84% responden termasuk dalam katagori mampu, namun hanya 14% responden yang bersedia membayar dengan tarif yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Bandung. Sementara untuk rusunawa tipe 29 adalah 75% responden yang termasuk dalam katagori mampu, namun hanya 6% reponden yang bersedia membayar dengan tarif yang ditetapkan oleh pemerintah. Selain itu, mengenai preferensi masyarakat terhadap rencana pembangunan rumah susun di Kelurahan Cicadas, sebanyak 76% responden tidak bersedia pindah ke rumah susun, karena dianggap tidak nyaman dan memiliki tingkat privasi yang relatif lebih kecil dibanding dengan rumah yang mereka tempati saat ini.
Sebagai kesimpulan, untuk pengadaan rumah susun di Kelurahan Cicadas ini sebaiknya dilakukan sosialisasi dan kajian lebih lanjut mengenai penentuan tarif sewa, agar rencana pembangunan rumah susun ini dapat terlaksana dengan baik dan tepat sasaran.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2012).IDENTIFIKASI TINGKAT KEMAMPUAN DAN KESEDIAAN MEMBAYAR MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DALAM KEPEMILIKAN RUMAH SUSUN (STUDI KASUS: KELURAHAN CICADAS) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KEMAMPUAN DAN KESEDIAAN MEMBAYAR MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DALAM KEPEMILIKAN RUMAH SUSUN (STUDI KASUS: KELURAHAN CICADAS) ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text
MLA Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KEMAMPUAN DAN KESEDIAAN MEMBAYAR MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DALAM KEPEMILIKAN RUMAH SUSUN (STUDI KASUS: KELURAHAN CICADAS) ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text
Turabian Style
.IDENTIFIKASI TINGKAT KEMAMPUAN DAN KESEDIAAN MEMBAYAR MASYARAKAT BERPENGHASILAN RENDAH DALAM KEPEMILIKAN RUMAH SUSUN (STUDI KASUS: KELURAHAN CICADAS) ().Teknik Planologi:FTSP,2012.Text