IDENTIFIKASI TEMPERATUR UDARA DALAM PENGENDALIAN IKLIM MIKRO KAWASAN DITINJAU DARI LAHAN TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG ALUN-ALUN)
Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang paling ideal dan diharapkan
oleh semua pihak. Hal ini disebabkan pembangunan berkelanjutan akan memenuhi
kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang (Djajadiningrat,
2001). Peningkatan aktivitas dan pembangunan yang dilakukan berdampak pada lingkungan
thermal dikawasan perkotaan. Aktivitas yang dilakukan dengan intensitas tinggi
menimbulkan berbagai dampak, salah satunya pada lingkungan thermal yang ditandai
dengan peningkatan temperatur udara di kota (Wonorahardjo, 2009). Meningkatnya area
terbangun dan berkurangnya ruang terbuka hijau serta berkonsentrasinya penduduk pada
wilayah tertentu mengakibatkan terbentuknya pulau panas atau heat island.
Berangkat dari hal-hal tersebut, maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh
ruang terbuka hijau dan lahan terbangun terhadap iklim mikro yang meningkatkan dan
menurunkan temperatur udara kawasan perkotaan, terutama kota-kota besar yang memiliki
konsentrasi penduduk yang tinggi, termasuk Kota Bandung. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui iklim mikro kawasan pusat Kota Bandung ditinjau dari temperatur udara yang
dipengaruhi oleh ruang terbuka hijau dan lahan terbangun. Tujuan tersebut didukung
beberapa sasaran penelitian.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Dengan menggunakan metode analisis
regresi linier berganda untuk menghitung besar pengaruh antara setiap variabel dengan
temperatur udara. Analisis deskriptif kualitatif untuk mendeskripsikan objek studi. Objek
studi dari penelitian ini berada dikawasan pusat Kota Bandung dengan radius 1 km dari titik
nol pusat Kota Bandung dengan membagi 11 titik pengukuran di dalam kawasan dengan
pertimbangan jenis kegiatan dan kondisi fisik.
Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa temperatur udara di dalam zona dipengaruhi
oleh orientasi bangunan, jenis material bangunan, jenis material permukaan jalan, tingkat
keteduhan pohon dan kerapatan pohon. Karakteristik kawasan sangat berpengaruh dalam
kenaikan dan penurunan temperatur udara hal ini dapat dilihat dari hasil analisis
kenaikan/penurunan temperatur udara. Meskipun kerapatan pohon memiliki pengaruh yang
sangat besar terhadap temperatur udara, jika di kondisi eksisting zona tersebut tidak
memiliki kerapatan pohon maka zona tersebut juga akan mengalami kenaikan temperatur
udara yang tinggi seperti zona Otto Iskandardinata, meskipun orientasi bangunan dan jenis
material bangunan tergolong kategori rendah akan tetapi tidak ada kerapatan pohon
ataupun keteduhan pohon yang dapat menyeimbangi kenaikan temperatur maka zona
tersebut juga akan tetap memiliki temperatur di atas rata-rata.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2015).IDENTIFIKASI TEMPERATUR UDARA DALAM PENGENDALIAN IKLIM MIKRO KAWASAN DITINJAU DARI LAHAN TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG ALUN-ALUN) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.IDENTIFIKASI TEMPERATUR UDARA DALAM PENGENDALIAN IKLIM MIKRO KAWASAN DITINJAU DARI LAHAN TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG ALUN-ALUN) ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text
MLA Style
.IDENTIFIKASI TEMPERATUR UDARA DALAM PENGENDALIAN IKLIM MIKRO KAWASAN DITINJAU DARI LAHAN TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG ALUN-ALUN) ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text
Turabian Style
.IDENTIFIKASI TEMPERATUR UDARA DALAM PENGENDALIAN IKLIM MIKRO KAWASAN DITINJAU DARI LAHAN TERBANGUN DAN RUANG TERBUKA HIJAU (STUDI KASUS KAWASAN PUSAT KOTA BANDUNG ALUN-ALUN) ().Teknik Planologi:FTSP,2015.Text