// <![CDATA[STUDI PERBANDINGAN PENERAPAN BMS – 1992 DAN SNI – 2005 PADA JEMBATAN KOMPOSIT]]> Nia Elisa Larasati / 22.2007.002 Dosen Pembimbing 1 Dr. Tech. Aswandy., Ir., M.T.
Menjaga kemampuan daya layan jembatan merupakan hal yang utama sebagai perwujudan nyata terhadap pelayanan jasa. PT. Bukaka Teknik Utama selaku salah satu pemasok jembatan komposit mendasarkan perencanaan jembatan pada peraturan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum, yaitu Peraturan Perencanaan Jembatan dan Penjelasannya BMS - 1992, termasuk juga beberapa peraturan lain yang dipandang perlu untuk dijadikan acuan perencanaan lain AASHTO, AISC dan lain-lain. Dalam tugas akhir ini akan dilakukan analisa dengan mengambil data-data jembatan dari PT. Bukaka Teknik Utama sebagai pemasok. Desain akan dikaji ulang melalui peraturan jembatan yaitu BMS – 1992 dan SNI – 2005, adapun variasi bentang jembatan yang dikaji adalah pada bentang 20 m, 25 m, dan 30 m. Pada desain yang dimiliki PT. Bukaka Teknik Utama tidak dicantumkan ukuran dimensi dari dari tebal profil gelagar baja, sedangkan lebar sayap dan tinggi profil diketahui, yaitu pada jembatan bentang 20 m tinggi total profil adalah 986 mm dan lebar sayap atas 230 mm serta 250 mm untuk sayap bawah, sedangkan pada jembatan bentang 25 m tinggi total profil adalah 1131 mm dan lebar sayap atas 250 mm serta 360 mm untuk sayap bawah, dan terakhir pada jembatan bentang 30 m tinggi total profil adalah 1381 mm dan lebar sayap atas 360 mm serta 420 mm untuk sayap bawah, oleh karena itu analisa dimulai dengan menghitung tebal sayap dan badan minimum dari profil gelagar baja. Setelah mendapatkan dimensi tebal minimum dari gelagar baja maka tahap selanjutnya adalah dengan mencoba-coba nilai yang memenuhi syarat kekuatan dan lendutan. Untuk mendapatkan acuan sebagai dasar perencanaan dimensi yang efektif dan efisien maka dilakukan analisa pembebanan yang akan dipikul gelagar. Dari analisa tersebut akan diperoleh kapasitas momen maksimum dan geser maksimum, serta lendutan yang terjadi akibat pembebanan. Dengan syarat-syarat yang telah ditetapkan, maka akan diperoleh desain gelagar yang dapat digunakan untuk perencanaan jembatan. Analisa kemudian dibandingkan dengan syarat-syarat yang ada pada BMS – 1992 dan SNI – 2005, sehingga diperoleh perbedaan nilai sebagai dasar perencanaan jembatan. Dari hasil analisa, didapat nilai momen maksimum, geser maksimum, dan lendutan akibat pengaruh beban mati dan beban hidup. Dimensi tebal profil gelagar baja yang telah dianalisa memenuhi syarat yaitu untuk bentang jembatan 20 m, tebal sayap atas dan bawah sebesar 16 mm, 12 mm untuk tebal badan profil. Pada bentang jembatan 25 m tebal sayap atas 16 mm dan sayap bawah 22 mm, serta tebal badan 13 mm. Terakhir pada bentang 30 mm tebal sayap atas adalah 17 mm dan sayap bawah 24 mm, serta tebal badan yaitu 16 mm. Kata kunci: jembatan komposit, profil gelagar baja.