ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN PENGELAK BENDUNGAN JATIGEDE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA
Terowongan Pengelak merupakan salah satu bangunan yang berfungsi mengalirkan air sungai selama proses konstruksi bendungan. Terowongan Pengelak Bendungan Jatigede dibangun pada media batuan dengan menggunakan metode penggalian Drill and Blast. Massa batuan yang kurang baik dan tingkat kepentingan bendungan, membuat analisa stabilitas terowongan menjadi syarat penting untuk menjaga kestabilan bendungan, baik selama masa konstruksi maupun ketika bendungan berfungsi sebagaimana mestinya. Tujuan dari studi ini adalah menganalisis stabilitas terowongan pengelak berdasarkan as built drawing dan penggunaan Metode Elemen Hingga untuk proses kalkulasi. Pemahaman akan konsep tentang terowongan, metoda penggalian, jenis lining dan jenis elemen penyangga awal yang akan dipakai mampu memberikan gambaran akan konstruksi terowongan pada batuan. Perbedaan perilaku tanah dan batuan menjadi bagian yang perlu diperhatikan dalam proses perencanaan. Pengetahuan akan sistem klasifikasi massa batuan yang dipakai akan membantu dalam mengetahui parameter-parameter mekanis yang akan dipakai pada proses perencanaan maupun evaluasi. PLAXIS 2D 2010 merupakan program berbasis Metode Elemen Hingga yang digunakan dalam menganalisis gaya dalam dan deformasi pada struktur terowongan. Segmen yang dianalisis adalah segmen B8, B17 dan B28, segmen-segmen tersebut dianggap mampu mewakili seluruh pembebanan yang terjadi pada struktur terowongan seperti: beban overburden tertinggi, elevasi air tanah tertinggi, material terlemah dan zona sesar. Metode Elemen Hingga akan dibandingkan dengan Metode Analisis yang dilakukan oleh konsultan perencanaan terowongan pengelak bandungan Jatigede. Permodelan menggunakan Mohr-Coulomb akan dibandingkan dengan permodelan menggunakan Hoek-Brown berdasarkan gambar as-built. Kondisi yang dibandingkan adalah kondisi Active Diversion Tunnel dan Maximum Water Level at Dam. Permodelan menggunakan paramater mekanis batuan Tuffaceous Sandstone, Volcanic Breccia dengan nilai RMR 36.4, dan Volcanic Breccia dengan nilai RMR 38.6 . Tebal lining yang digunakan adalah 1 m, 1.5 m dan 1.75 m dengan diameter terowongan 10 m serta lebar penggalian disesuaikan dengan kondisi yang sebenarnya. Pembebanan uplift dan konstruksi dimodelkan secara manual. Metode analisis menggunakan Staged Construction dengan menerapkan Ko-procedure pada tahapan initial condition. Hasil dari penggunaan Metode Elemen Hingga dengan Metode Analisis dengan pendekatan empirik menunjukkan nilai yang berbeda. Hal ini disebabkan adanya faktor pembebanan yang digunakan pada metode analisis dan juga perbedaan kondisi persegmen yang berbeda dengan Metode Elemen Hingga dimana menggunakan as built drawing sebagai dasar permodelan. Nilai yang berdasarkan model Hoek-Brown lebih kritis bila dibandingkan dengan model Mohr-Coulomb. Deformasi yang terjadi sebagai hasil output dari Metode Elemen hingga masih dalam tahap kewajaran untuk deformasi konstruksi bawah tanah. Kata Kunci: Metode Elemen Hingga, PLAXIS, Terowongan, Lining, Pengelak, Hoek-Brown.
Detail Information
Citation
APA Style
. (2012).ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN PENGELAK BENDUNGAN JATIGEDE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA ().Teknik Sipil:FTSP
Chicago Style
.ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN PENGELAK BENDUNGAN JATIGEDE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA ().Teknik Sipil:FTSP,2012.Text
MLA Style
.ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN PENGELAK BENDUNGAN JATIGEDE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA ().Teknik Sipil:FTSP,2012.Text
Turabian Style
.ANALISIS STABILITAS TEROWONGAN PENGELAK BENDUNGAN JATIGEDE DENGAN METODE ELEMEN HINGGA ().Teknik Sipil:FTSP,2012.Text