// <![CDATA[ANALISIS PENGARUH TEMPERATUR PEMADATAN TERHADAP PARAMETER MARSHALL PADA BETON ASPAL CAMPURAN PANAS]]> Ilham Maulana Taufik / 222009102 Dosen Pembimbing 1 Elkhasnet, Ir. MT.
Peranan utama jalan sebagai prasarana yang menunjang kelangsungan aktifitas hidup masyarakat membuat prasarana transportasi menjadi sorotan khusus masyarakat di Indonesia pada umumnya. Salah satu contoh yang perlu diperhatikan adalah faktor penyebab kerusakan jalan yang diakibatkan karena proses pemadatan campuran beraspal yang dilakukan di lapangan tidak pada temperatur yang tepat, hal ini disebabkan karena lokasi AMP (Asphalt Mixed Plant) yang terlalu jauh dari lokasi penghamparan. Kondisi inilah yang menyebabkan pemadatan yang dilakukan tidak sesuai dengan yang disyaratkan dan akan mempengaruhi karakteristik campuran beton aspal. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka pada penelitian ini dilakukan analisis pemadatan campuran panas terhadap temperatur yang disyaratkan. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui pengaruh temperatur pemadatan terhadap nilai parameter Marshall pada campuran laston AC-WC (Asphalt Concrete-Wearing Course). Aspal yang digunakan adalah aspal produksi pertamina dengan penetrasi 60. Adapun kadar aspal yang digunakan pada campuran laston AC-WC yaitu kadar aspal optimum dengan berat 6,1% terhadap berat campuran. Benda uji dengan kadar aspal optimum dibuat 3 buah untuk masing-masing variasi temperatur pemadatan, selanjutnya dilakukan uji Marshall sehingga dapat diketahui karakteristik campuran beton aspal terhadap variasi temperatur pemadatan 100ºC, 120ºC, 130ºC dan 140ºC. Temperatur pemadatan yang meningkat menghasilkan nilai stabilitas yang tinggi pada campuran beton aspal, hal ini didukung dari meningkatnya nilai VFA serta menurunnya nilai VIM dan VMA. Hasil pengujian Marshall menunjukkan bahwa campuran beton aspal AC-WC pada temperatur pemadatan 100ºC dan 120ºC tidak memenuhi spesifikasi yang disyaratkan, sedangkan pada temperatur pemadatan 130ºC dan 140ºC memenuhi spesifikasi yang disyaratkan. Hal ini dikarenakan pada temperatur pemadatan 100ºC dan 120ºC campuran kurang merata akibat temperatur yang rendah, sedangkan pada temperatur pemadatan 130ºC dan 140ºC rongga pada campuran terisi dengan baik.