// <![CDATA[KAJIAN EKSPERIMENTAL KAPASITAS SAMBUNGAN MATERIAL FIBER REINFORCED POLYMER]]> Euneke Widyaningsih / 222010031 Dosen Pembimbing 1 Bernardinus Herbudiman, ST., MT. Setyo Hardono, ST., MT.
Material Fiber Reinforced Polymer adalah alternatif baru dalam perencanaan struktur yang memiliki keunggulan rasio strength terhadap berat sendiri yang sangat tinggi disamping memiliki sifat lainnya seperti non konduktif, anti korosi, dan sebagainya. Khususnya pada pembangunan jembatan yang hingga saat ini memiliki waktu perakitan yang lama dan material yang sulit dibawa tanpa alat berat, Fiber Reinforced Polymer menjadi pilihan dalam mendapatkan suatu struktur jembatan yang ringan, cepat dalam instalasi dan memiliki kapasitas yang cukup besar. Namun minimnya penggunaan Fiber Reinforced Polymer dalam dunia konstruksi menyebabkan kurangnya bahan dalam perencanaan, termasuk dalam perancangan sambungan. Metode dalam melakukan eksperimen mengenai kekuatan sambungan Fiber Reinforced Polymer adalah sebagai berikut: 1) mengumpulkan informasi dari berbagai literatur mengenai sifat dan karakteristik sambungan Fiber Reinforced Polymer, 2) menentukan variasi uji eksperimen kapasitas sambungan baut, 3) merencanakan sambungan dengan jarak minimum baut yang didasarkan pada “Fiberline Design Manual” (Henrik Thorning, 2003), 4) mempersiapkan 9 buah spesimen uji untuk 3 variasi yaitu 2 lubang baut, 4 lubang baut dan 5 lubang baut dengan ukuran 100 mm x 400 mm x 9 mm, 5) melakukan pengujian tarik dengan Universal Testing Machine hingga diperoleh nilai P maksimum yang dapat dipikul sambungan, 6) melakukan analisis data yang berupa perbandingan antara nilai P maksimum dari uji eksperimen (Dat Dunhinh, 2000) hingga diperoleh hubungan nilai antara hitungan dengan hasil pengujian. Hasil dari pengujian laboratorium mendapati bahwa pola kerusakan pada Fiber Reinforced Polymer didominasi oleh kerusakan pada arah geser dikarenakan perbedaan kekuatan arah horizontal dan vertikalnya. Sementara dari hasil perbandingan antara hitungan dan pengujian diperoleh faktor koreksi sebesar 32%.