// <![CDATA[STUDI PARAMETER MARSHALL UNTUK CAMPURAN LASTON AC-BC MENGGUNAKAN AGREGAT YANG DIRENDAM DENGAN MAGNESIUM SULFAT (MGSO4)]]> Arief Fahrurrizal - 222002027 Dosen Pembimbing 1 Sofyan Triana, S.T., M.T. Elkhasnet, Ir., M.T.
Jenis agregat di wilayah Jawa Barat khususnya agregat kasar, umumnya memiliki sifat penyerapan yang relatif tinggi karena mengandung banyak pori. Sebelum agregat digunakan sebagai bahan campuran perkerasan aspal, sifat fisik pada agregat perlu diperbaiki dengan cara direndam pada larutan MgSO4 (Magnesium Sulfat). Penelitian ini menggunakan agregat yang berasal dari Nagreg (Garut) dan Leuwigajah (Cimahi). Agregat kasar direndam dengan variasi rasio larutan yang merupakan variasi rasio berat MgSO4 terhadap berat air yaitu 1:4; 1:6; 1:8; dan 1:10. Agregat kasar yang direndam pada rasio 1:4 memiliki nilai penyerapan terendah, tetapi masih > 3%. Untuk memenuhi persyaratan nilai penyerapan < 3% (Spesifikasi Bina Marga), maka agregat kasar direndam dengan cara dipanaskan dalam oven, sehingga diperoleh nilai penyerapan < 3% pada rasio 1:10 dengan waktu perendaman 24 jam. Nilai penyerapan agregat kasar tanpa direndam sebesar 8,8% (Nagreg) dan 8,73% (Leuwigajah), sedangkan setelah direndam nilainya turun menjadi 2,09% (Nagreg) dan 2,46% (Leuwigajah). Untuk campuran digunakan aspal penetrasi 80, sedangkan variasi kadar aspal terhadap berat campuran adalah 5,0%; 5,5%; 6,0%; 6,5% dan 7,0%. Kadar aspal optimum pada campuran beton aspal yang menggunakan agregat kasar tanpa direndam tidak diperoleh, karena VIM dan VFA sebagai parameter sifat volumetrik beton aspal tidak memenuhi persyaratan sifat campuran beton aspal (Laston AC-BC). Campuran dengan agregat kasar yang direndam, memiliki kadar aspal optimum sebesar 6,73% (Nagreg) dan 6,88% (Leuwigajah). Hasil uji Marshall menunjukkan bahwa nilai Stabilitas, VMA, dan VFA pada campuran dengan agregat kasar yang direndam meningkat, sedangkan nilai VIM dan flow menurun dibandingkan dengan campuran yang menggunakan agregat kasar tanpa direndam. Hal ini disebabkan terjadinya pengikisan pori pada agregat yang direndam, sehingga penyerapan agregat terhadap aspal tidak terlalu tinggi dan mengakibatkan semakin tebalnya selimut aspal pada campuran.