// <![CDATA[STUDI PARAMETER MARSHALL UNTUK TIGA JENIS GRADASI DARI CAMPURAN BETON ASPAL AC - WC.]]> SAEPUL HUDA / 22.2002.051 / SI Dosen Pembimbing 1 Silvia Sukirman, Ir.
Untuk mendapatkan struktur perkerasan jalan yang memenuhi standar mutu yang telah ditetapkan, maka setiap komponen pembentuk struktur perkerasan harus memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Peraturan tersebut menetapkan persyaratan spesifikasi campuran seperti gradasi agregat. Gradasi Agregat menentukan besarnya rongga atau pori yang terjadi dalam Agregat campuran. Penelitian ini bertujuan untuk membandingakan nilai parameter Marshall dari tiga gradasi campuran yaitu batas atas, gradasi yang masuk daerah larangan dan gradasi yang lebih kasar dari daerah larangan. Hal ini yang menjadi latar belakang dilakukannya penelitian penyusunan gradasi berdasarkan rumus Fuller. Gradasi yang dijadikan sebagai acuan adalah Laston AC-WC dengan menggukan tiga jenis gradasi yaitu gradasi atas, gradasi bawah dan gradasi yang melintasi daerah larangan. Percobaan laboratorium dilakukan untuk mendapatkan parameter Marshall yang dijadikan sebagai pembanding antara gradasi batas atas dan gradasi batas bawah dengan gradasi yang melintasi daerah larangan. Berdasarkan hasil perhitungan dan analisis data pada parameter Marshall untuk gradasi bawah dan gradasi yang masuk daerah larangan yang ditinjau di dapat nilai VMA, VIM lebih kecil dibandingkan gradasi atas,karena rongga agregat pada campuran gradasi yang masuk daerah larangan dan gradasi bawah memiliki rongga antar agregat lebih kecil sehingga rongga agregat kasar pada campuran lebih terisi oleh agret halus menyebabkan campuran lebih padat. VFA untuk gradasi atas lebih rendah dibandingkan dengan gradasi yang masuk daerah larangan dan gradasi bawah karena gradasi atas butiran agregat lebih halus sehingga aspal lebih banyak terserap oleh agregat halus dari pada mengisi rongga agregat pada campuran. Stabilitas gradasi yang masuk daerah larangan nilainya paling besar karena selisih persen lolos agregat persaringan kecil. Flow gradasi bawah lebih besar dibandingkan gradasi yang masuk daerah larangan dan gradasi atas karena gradasi bawah dominan agregat kasar sehingga rongga agregat pada campuran lebih besar sedangkan untuk gradasi atas memiliki butiran agregat yang lebih halus, dengan butiran agregat yang lebih halus agregat memiliki pori yang lebih banyak sehingga aspal lebih banyak terserap dari pada mengikat agregat pada campuran sehingga campuran menjadi getas.