// <![CDATA[PENINGKATAN KUALITAS PROSES PRODUKSI KOMPONEN HORIZONTAL STABILIZER MENGGUNAKAN METODE FAILURE MODE AND EFFECTS ANALYSIS DAN FAULT TREE ANALYSIS (Studi Kasus PT Dirgantara Indonesia)]]> Ir. Yuniar, MT. Mutia Utami/ 13-2012-036 Penulis Dr., Ir. Kusmaningrum, MT.
Pesawat terbang CASA C-212-400 merupakan pesawat berukuran sedang yang diproduksi oleh PT Dirgantara Indonesia. Horizontal stabilizer merupakan salah satu 5 struktur utama dari pesawat terbang CASA C-212-400. Dalam proses produksinya masih terdapat kegagalan untuk proses assembly dari masing-masing part pembentuk horizontal stabilizer. Kegagalan atau istilah yang sering digunakan di perusahaan yaitu rejection tag form sangat merugikan perusahaan. Satu rejection tag form bernilai 500 dolar. Penelitian ini dilakukan sebagai salah satu cara untuk meminimasi jumlah reject pada proses produksi horizontal stabilizer. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Berdasarkan data jenis cacat, jumlah cacat, dan jumlah produksi dari horizontal stabilizer dilakukan identifikasi jenis-jenis kegagalan (failure mode), akibat dari kegagalan (failure effect), dan identifikasi penyebab kegagalan (failure causes). Nilai risk priority number (RPN) yang didapat dari perkalian antara severity rating, frequency rating, dan probabilitas of detection rating menjadi dasar membuat Pareto Chart. Dari Pareto Chart didapat prioritas cacat yang perlu segera dicari akar permasalahannya. Delapan permasalahan yang menjadi prioritas yaitu 1.) informasi (pada gambar) tidak disampaikan merata kepada operator yang melakukan proses assembly part number 212-31003-3A01020-012.00 sehingga saat dilakukan assembly berikutnya dengan part number 212-31003-3A01020-013.00 tidak bisa dilakukan (Incorrect Part Profile), 2.) kurangnya ketelitian operator saat melakukan proses produksi untuk part 212-31003-3A01020-012.00 (Incorrect Part Profile), 3.) mata pahat yang digunakan untuk proses pelubangan tidak sesuai dengan ukuran lubang (Oversized Hole), 4.) posisi pahat miring karena tidak menggunakan bush dan tidak ada pengawasan dari bagian supervisor dan kepala bagian stabilizer (Oversized Hole), 5.) kesalahan dari bagian Drawing karena tidak menggunakan informasi terbaru yang berasal dari Design & Process Engineering, sehingga drawing yang sudah release ke operator tidak mencakup informasi yang baru (Incorrect Fastener Location), 6.) toleransi yang digunakan tidak tepat karena terjadi kesalahan dari bagian Design & Process Engineering dalam menentukan nilai toleransi untuk lubang. (Out Of Tolerance), 7.) posisi pengeboran yang dilakukan operator miring (Out Of Tolerance), 8.) bush tidak sesuai dengan mata pahat (Elongated Hole). Kemudian dicari akar penyebab permasalahannya menggunakan Metode Fault Tree Analysis (FTA). Dari hasil FTA stakeholder yang perlu melakukan perbaikan adalah manager, drawing, supervisor, kepala bagian stabilizer, dan bagian perawatan. Usulan perbaikan terdapat pula dalam bentuk aturan. Pembuatan aturan dilakukan dengan melibatkan beberapa divisi yaitu divisi manajemen sumber daya aerostructure, divisi manajemen sumber daya aircraft service, divisi manajemen sumber daya aircraft service integration, divisi sertifikasi & manajemen sumber daya, dan divisi quality management system department.