// <![CDATA[MUSEUM SENI DAN BUDAYA ISLAM NUSANTARA, BUMI SERPONG DAMAI]]> Khairul Makhfud / 212010122 Dosen Pembimbing 1 Eka Virdianti, ST., MT Dwi Kustianingrum, Ir., MT
Seni dan budaya asli Indonesia yang kita ketahui memiliki keberagaman dari setiap daerah yang muncul dari kreasi dan kebiasaan masyarakat. Munculnya seni dan budaya di Indonesia sangat terinspirasi dari ajaran agama tak terkecuali agama Islam sehingga terciptalah seni dan budaya Islam Nusantara. Untuk mewujudkan masyarakat yang memahami seni dan budaya Islam Nusantara maka salah satu usahanya ialah dengan membangun museum yang memperlihatkan perkembangan seni budaya Islam berupa seni tarian, seni lukis, seni suara serta pengetahuan terhadap perkembangan seni dan budaya Islam itu sendiri. Namun pada masyarakat Indonesia, kebudayaan rekreasi berkunjung ke museum masih sangat minim. Masyarakat lebih memilih aktivitas rekreasi yang lain. Dalam teorinya, museum harus memenuhi prinsip-prinsip konservasi, agar koleksi museum tetap lestari. Bangunan museum minimal dapat dikelompok menjadi dua kelompok, yaitu bangunan pokok (pameran tetap, pameran temporer, auditorium, kantor, laboratorium konservasi, perpustakaan, bengkel preparasi, dan ruang penyimpanan koleksi) dan bangunan penunjang (pos keamanan, museum shop, restoran, tiket box, toilet, lobbi, dan tempat parkir). Selain itu lokasi yang strategis juga mempengaruhi minat masyarakat untuk berkunjung ke museum. Tujuan dari perancangan ini ialah merencanakan bangunan komersil dengan latar Seni dan Budaya Islam Nusantara di tengah kota. Selain itu juga untuk menciptakan sarana publik yang ramah lingkungan, sehingga dapat menciptakan keselarasan antara alam dan bangunan serta menciptakan sarana publik yang menambah pengetahuan dan memicu masyarakat ikut melestarikan Seni dan Budaya Islam Indonesia. Tema perancangan tapak dan bangunan yang diambil adalah “ Akuturasi Budaya dalam Arsitektur Islam “ yang merupakan wujud dari gambaran perkembangan seni dan budaya nusantara yang terpengaruhi oleh masuknya dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Pada aplikasinya di desain, penggabungan arsitektur Islam dan kearifan lokal Nusantara membentuk suatu langgam bangunan arsitektur Islam dengan ciri khas Nusantara. Konsep bangunan arsitektur islam yang berkembang di nusantara dengan atap miring bertumpuk, perpaduan ukiran kaligrafi dengan ornamen tradisional, taman yang berada di tengah bangunan, serta pola geometri pada denah dan tampak diterapkan pada bangunan museum ini.