// <![CDATA[PENERAPAN TRANSFORMASI LAUF DALAM TRANSFORMASI DATUM (STUDI KASUS PGE AREA KAMOJANG, JAWA BARAT)]]> Bambang Rudianto, Ir., M.T. Wishal Mufidah Arfa/ 23-2011-058 Penulis
Keterbatasan teknologi saat itu menyebabkan penyatuan sistem datum geodesi tidak memungkinkan, sehingga jaring utama triangulasi Jawa - Sumatra - Bali - Lombok tidak satu sistem dengan jaring utama Sulawesi. Upaya penyatuan sistem datum geodetik dilakukan dengan memanfaatkan teknologi satelit Doppler, dengan demikian jaring triangulasi sejak saat itu sudah berada dalam satu sistem datum geodetik yang diberinama Indonesia Datum 1974 atau (DI-74) dan pada tahun 1996 ditetapkanlah datum baru untuk keperluan survei dan pemetaan menggantikan DI-74, yang disebut dengan Datum Geodetik Nasional 1995 (DGN-95). Berhubungan dengan digunakanya datum DGN-95 sebagai datum tunggal dan kenyataanya dilapangan masih banyak terdapat peta-peta yang berada dalam sistem datum lama, maka untuk mengintegrasikan satu sama lain perlu dilakukan transformasi koordinat. Penelitian ini akan mengkaji penerapan model transformasi Lauf cara interpolasi selisih terbagi dalam bilangan kompleks untuk keperluan transformasi titik – titik dari suatu datum ke datum yang lain.Penggunaan 3,4 dan 5 titik sekutu dengan koordinat yang digunakan dalam sistem proyeksi UTM dan sistem geosentrrik. Dari hasil hitungan dilakukan uji secara geoemtrik yaitu perubahan sudut dan jarak sebelum dan sesudah transformasi, bahwa transformasi Lauf dengan data masukan 4 titik sekutu sistem geosentrik memberikan hasil yang baik