// <![CDATA[PERENCANAAN SISTEM KOMUNIKASI SERAT OPTIK KONSORSIUM B38 RING SURABAYA–PASURUAN– MALANG–BLITAR–KEDIRI–JOMBANG– SURABAYA]]> Dwi Aryanta, ST., MT. Ir.Hilmy Muhammad Nur WELLI /11-2001-096 Penulis
Permasalahan yang umum terjadi dalam sistem telekomunikasi adalah keterbatasan kapasitas kanal transmisi dalam memenuhi kebutuhan trafik yang terus meningkat. Namun sejalan dengan perkembangan dibidang telekomunikasi yang didorong oleh permasalahan tersebut telah mengakibatkan perubahan yang cepat dalam penyediaan kapasitas kanal transmisi yang besar, salah satu teknologi yang dapat meningkatkan kapasitas kanal transmisi adalah Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) yang diimplementasikan pada sistem komunikasi serat optik. Dalam tugas akhir ini akan dilakukan perencanaan sistem komunikasi serat optik konsorsium B38 area Jawa dengan menggunakan teknologi DWDM dalam rangka memenuhi kebutuhan trafik sampai dengan tahun 2012. Berdasarkan tabel prediksi pelanggan dan trafik sampai dengan tahun 2012 sistem harus dapat melayani pelanggan sebesar 548.290 Erlang. Satu Erlang adalah satu panggilan yang menggunakan satu kanal selama satu jam, jika 548.290 Erlang dikonversi ke dalam E1 (dalam satu E1 terdapat 32 kanal, 30 digunakan untuk layanan data dan voice, 2 kanal lagi digunakan untuk signalling dan sinkronisasi) berarti jumlah kanal E1 yang dibutuhkan adalah 548.290/30 = 18.276 kanal E1, sehingga dari hasil ini sistem DWDM membutuhkan 5 x STM-64. Selain itu, juga dilakukan analisa link power budget dan rise time budget pada ring Surabaya-Pasuruan-Malang-Blitar-Kediri-Jombang-Surabaya. Dari hasil analisa link power budget diperoleh level daya di penerima setiap link pada ring Surabaya-Pasuruan-Malang-Blitar-Kediri-Jombang-Surabaya, baik link dengan penguat optik maupun link tanpa penguat opitk memenuhi syarat karena nilainya masih diatas sensitivitas minimum sistem(-28 dBm). Untuk link Blitar-Kediri perbedaan antara level daya di penerima dengan sensitivitas minimum tidak mencapai 1 dB, jadi untuk memastikan daya yang ditransmisikan sampai ke penerima pada link ini akan dipasang penguat optik. Sedangkan hasil dari perhitungan rise time untuk setiap link pada ring Surabaya–Pasuruan–Malang– Blitar–Kediri–Jombang–Surabaya lebih kecil dari rise time sistem (70 ps), maka sistem layak untuk diimplementasikan