// <![CDATA[ANALISA KEGAGALAN PIPA DISTRIBUSI WATER COOLING PADA SISTEM PLTA KAPASITAS 175 MW]]> Rio Sutrisno Piliang 12 – 2011 – 161 Penulis Yusril Irwan, Ir., MT Meilinda Nurbanasari, Ph.D
Kerusakan pada pipa distribusi water cooling pada Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) kapasitas 175 MW yang telah beroperasi selama ± 30 tahun berdampak pada berhentinya sistem pusat listrik diluar jadwal perawatannya. Hal tersebut memberikan kerugian dalam hal memproduksi listrik dan penggantian komponen yang mengalami kerusakan. Untuk mengetahui akar dari permasalahan tersebut, dilakukan identifikasi kegagalan dengan metoda RCA (Root Cause Analysis). Kegagalan yang terjadi pada pipa distribusi water cooling disebabkan oleh korosi dan dipercepat dengan adanya laju aliran turbulen yang mengakibatkan terjadinya erosi. Penipisan material akibat erosi tersebut menyebabkan menurunnya kualitas material hingga mengalami kebocoran. Munculnya korosi tersebut disebabkan oleh kandungan unsur asing didalam air, seperti : sulfur, oksigen, seng yang melewati pipa distribusi water cooling, dan laju aliran turbulen disebabkan tidak meratanya permukaan dalam pipa yang disebabkan oleh hasil lasan. Untuk mendapatkan data yang mendukung analisa kegagalan tersebut maka, dilakukan beberapa metoda inspeksi, yaitu : visual inspection, uji dye penetrant, uji radiografi, uji komposisi kimia, hardness test, analisa stuktur mikro, fraktrogtafi ( SEM-EDS ), serta mencari literatur yang berhubungan dengan kegagalan tersebut. Hal tersebut megindikasikan terjadinya korosi akibat adanya unsur asing diperkuat dari data hasil analisa deposit dengan SEM-EDS menunjukkan adanya kandungan senyawa sulfur dan oksigen dipermukaan yang mengalami kebocoran. Analisa data inspeksi yang telah dilakukan menunjukan bahwa kegagalan pada pipa distribusi water cooling disebabkan adanya korosi yang dipercepat dengan laju aliran turbulen akibar hasip pengelasan yang tidak sempurna yang memicu terjadinya erosi hingga mengalami kebocoran.