// <![CDATA[PENGUJIAN PERFORMANSI VoIP PADA JARINGAN WiMAX (Studi Kasus Beberapa Area Di Kota Bandung)]]> Dwi Aryanta, MT. FUADI SHOFA/ 11-2003-023 Penulis
Semakin berkembangnya teknologi, semua aplikasi akan berbasis Internet Protokol (IP). Berbagai cara digunakan untuk melewatkan layanan melalui jaringan IP. Jaringan IP sendiri adalah merupakan jaringan komunikasi data yang berbasis packet-switch. Salah satu layanan yang bisa dilewatkan melalui jaringan IP adalah layanan voice atau biasa disebut Voice over Internet Protocol (VoIP). VoIP adalah teknologi yang mampu melewatkan trafik suara yang berbentuk paket melalui jaringan IP. Komunikasi real time seperti voice merupakan layanan yang sangat rentan terhadap delay sedangkan jaringan akses yang sudah ada, memberikan delay yang cukup besar untuk layanan ini. Salah satu alternatif jaringan yang dapat digunakan adalah jaringan dengan teknologi WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access). Teknologi ini mampu memberikan layanan data berkecepatan hingga 70 Mbps dalam radius hingga 50 km[7]. Radius yang cukup untuk menjadikan WiMAX sebagai jaringan telekomunikasi broadband. Dengan teknologi WiMAX, impian akan layanan informasi data yang murah dengan kecepatan tinggi akan segera terwujud. Tugas Akhir ini menguji performansi VoIP pada jaringan WiMAX. Parameter yang diamati disini adalah one way delay, jitter dan packet loss yang terjadi mulai dari source node sampai dengan destination node. Selain itu diuji juga mengenai throughput untuk membuktikan konsistensi dari spek teknis atau teoritis dari WiMAX itu sendiri. Dari hasil pengukuran diperoleh hasil bahwa nilai one way delay, jitter dan packet loss masih berada pada range yang direkomendasikan oleh ITU, yaitu nilai maksimum untuk one way delay adalah 115,55 ms, untuk jitter adalah 5,63 ms dan untuk packet loss adalah 1,932 %. Sedangkan nilai maksimal throughput bisa mencapai 4,363 Mbps untuk downlink dan 7,973 Mbps untuk uplink pada lokasi TRG (Kopo). Pada lokasi TRG (Kopo) nilai SNR maksimum dengan nilai 22,75 dB sehingga modulasi yang digunakan adalah 64 QAM. Nilai RSSI paling kecil adalah -95 dBm pada lokasi Cileunyi dan nilai RSSI terbesar adalah -71 dBm pada lokasi TRG (Kopo). Jarak terjauh pengukuran sinyal masih bisa diterima dengan baik adalah pada daerah Rancaekek dengan jarak 32,3 km.