// <![CDATA[ASIA AFRIKA MEMORIAL HOTEL :]]> Luthfy Wildan Haryadi Nurul Fikry / 212010097 Dosen Pembimbing 1 ACHSIEN HIDAYAT, Ir, MT. DR. Dewi Parliana, Ir, MSP.
Seperti kota-kota berkembang lainnya, Bandung sarat dengan dinamika dan juga persoalan. Salah satu persoalan penting yang seringkali luput dari perhatian masyarakat dan pemimpin adalah hilangnya benda cagar budaya, dalam hal ini bangunan-bangunan heritage yang merupakan saksi sejarah dan identitas sekaligus kekayaan kota. Pembangunan rumah penduduk, fasilitas pendidikan, pusat perbelanjaan maupun factory outlet, serta proyek pelebaran jalan sering dilakukan dengan menggusur bangunan-bangunan yang dianggap merintangi. Bandung kehilangan bangunan heritage yang kaya dengan langgam arsitekturnya mulai dari Neo-Gothic, Art Nouveau, Art Deco, Fungsionalisme Modern dan lain sebagainya. Dalam satu dekade terakhir sejumlah bangunan hancur, antara lain gedung Singer, bangunan pojok berlanggam Art-Deco di Simpang lima, Bioskop Panti karya, bangunan rumah tinggal di Jl. RE Martadinata, bangunan rumah tinggal di Jl. Pagergunung yang sekarang tersisa 8 dari 12, bangunan di Ciumbeuleuit dan banyak lagi lainnya. Namun fakta tersebut nampaknya tidak berlaku di wilayah koridor jalan Asia Afrika. Masih banyak bangunan heritage yang dilestarikan bahkan menjadi daya tarik bagi suatu perusahaan atau kantor yang bergerak di bidang jasa dalam memasarkan usahanya. Proyek pembangunan “Asia Afrika Memorial Hotel” yang menjadi obyek penugasan akhir ini juga diharapkan bisa tetap mempertahankan bangunan heritage agar tetap menjadi warisan cagar budaya. Sehingga Bandung akan tetap menjadi laboratorium heritage bagi arsitektur dunia. Usaha tersebut dimulai dari pengambilan konsep bercerita tentang Asia Afrika di masa kejayaan yang dibawa ke masa sekarang dalam perancangan bertema “Urban Heritage dalam Harmoni”. Ini berarti bahwa sebuah perencanaan arsitektur harus sejalan dengan konteks bangunan lama atau bangunan sekitar.Hasil dari perancangan ini mudah-mudahan dapat diimplementasikan sehingga generasi mendatang bisa menikmati kualitas arsitektur yang baik dan menjadi edukasi sejarah arsitektur.