EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM KERETA API BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (Studi Kasus: Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta)
Kota Bandung sebagai pusat kegiatan ekonomi, perdagangan, dan pemerintahan di Provinsi Jawa Barat menuntut orang-orang yang melakukan aktivitas di Kota Bandung memiliki mobilitas yang tinggi. Berbagai aktivitas yang dilaksanakan tersebut tidak hanya melibatkan masyarakat yang berdomisili di Kota Bandung saja tetapi juga banyak melibatkan masyarakat yang tinggal di daerah luar Kota Bandung contohnya Kota Garut dan sekitarnya. Guna memenuhi kebutuhan mobilitas tersebut, maka perlu adanya penyediaan jasa transportasi yang baik dari segi jumlah maupun kualitas. Salah satu alternatif alat transportasi tersebut adalah Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta. Berdasarkan wawancara dengan petugas kereta api di Stasiun Bandung, kereta ini sangat membantu masyarakat dalam berpindah tempat dari Garut ke Bandung lalu Purwakarta juga sebaliknya, khususnya masyarakat dengan tingkat ekonomi menengah ke bawah. Berdasarkan diskusi dengan pengguna dan petugas kereta api, pelayanan kereta api yang baik dan layak masih belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh masyarakat, khususnya pengguna Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta. Keluhan yang paling banyak dirasakan oleh masyarakat adalah ketepatan waktu, ketidaknyamanan, dan sedikitnya jadwal keberangkatan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta dan meningkatkan kinerja angkutan umum kereta api tersebut berdasarkan tolok ukur dari beberapa variabel penilaian berupa, keamanan, kehandalan/keteraturan, kenyamanan, kemudahan, dan biaya. Variabel-variabel tersebut merujuk pada Standar Pelayanan Minimal Angkutan Orang dengan Kereta Api dalam Perjalanan yang terlampir dalam Peraturan Menteri Perhubungan Republik Indonesia No. 48 Tahun 2015. Variabel-variabel ini diharapkan dapat mewakili sudut pandang pengguna kereta dalam permasalahan yang dihadapi. Berdasarkan kinerja operasional angkutan umum, terdapat 17 tolak ukur Kinerja Operasional Kereta Api berdasarkan Lampiran Peraturan Menteri Perhubungan RI, PM. 48 Tahun 2015 Tentang Standar Pelayanan Minimum Angkutan Orang dengan Kereta Api dan dari 17 tolak ukur tersebut 14 Tolak ukur terpenuhi dan 3 tolak ukur tidak terpenuhi yaitu tidak tersedianya P3K dalam kereta, stiker yang berisi nomor telefon darurat dan SMS pengaduan, serta kereta api ini tidak memiliki sistem restorasi. Berdasarkan hasil analisis klasifikasi nilai pada seluruh variabel penilaian kinerja kereta api, maka diperoleh nilai rata-rata untuk kinerja Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta secara keseluruhan yaitu 2,4 (dari skala 3) sehingga kinerja Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta dapat dikatakan cukup baik. Walaupun masih sering terjadi keterlambatan keberangkatan dan tidak adanya informasi pemberhentian stasiun, namun hampir semua variabel yang diukur menunjukkan tingkat kinerja yang cukup memuaskan bagi pengguna. Berdasarkan persepsi pengguna yang sudah cukup puas dengan pelayanan yang diberikan, dapat disimpulkan pula bahwa PT. KAI Daerah Operasional II senantiasa meningkatkan pelayanannya terkhusus untuk Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta
Detail Information
Citation
APA Style
. (2016).EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM KERETA API BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (Studi Kasus: Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta) ().Teknik Planologi:FTSP
Chicago Style
.EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM KERETA API BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (Studi Kasus: Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta) ().Teknik Planologi:FTSP,2016.Text
MLA Style
.EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM KERETA API BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (Studi Kasus: Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta) ().Teknik Planologi:FTSP,2016.Text
Turabian Style
.EVALUASI KINERJA ANGKUTAN UMUM KERETA API BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA (Studi Kasus: Kereta Api Lokal Cibatu-Bandung-Purwakarta) ().Teknik Planologi:FTSP,2016.Text