// <![CDATA[IDENTIFIKASI KEBUTUHAN RUANG DALAM UPAYA MENGEMBANGKAN WISATA BUDAYA SENI PERTUNJUKAN TRADISIONAL]]> Ira Irawati, S.T., M.T. Ir. Yanti Helianty, M.T. KHAERUNNISA LARASHATI MAHMUD 24 2011 031 Penulis
Perkembangan pariwisata di dunia meningkat setiap tahunnya. Diantara program pengembangan pariwisata yang diusulkan dalam United Nation World Tourism Organization (UNWTO) untuk wilayah Asia Tenggara, salah satunya difokuskan terhadap pengembangan wisata budaya sosial (UNWTO Annual Report, 2013). Wisata budaya adalah wisata yang memanfaatkan objek dan daya tarik budaya dan kehidupan sosial yang meliputi museum, peninggalan sejarah, upacara adat, seni pertunjukkan, dan kerajinan (Direktorat Jendral Pemerintah). Di Indonesia, kebudayaan dianggap mampu menjadi fondasi yang kuat bagi industri pariwisata. Kota Bandung yang merupakan Ibukota Provinsi Jawa Barat memiliki banyak potensi wisata budaya khususnya kesenian tradisional yang berasal dari seluruh pelosok Jawa Barat. Upaya pelestarian seni tradisional sebagai warisan budaya dilakukan dengan penetapan seni tradisional sebagai salah satu potensi wisata yang dapat dikembangkan. Terbatasnya ruang pengembangan wisata budaya seni pertunjukkan tradisional di Kota Bandung menjadi salah satu kelemahan yang harus diminimalisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebutuhan ruang dalam upaya mengembangkan wisata budaya seni pertunjukan tradisional di Kota Bandung. Melalui teknik wawancara dan pendekatan fenomenologi eksploratif, penelitian kualitatif ini dimaksudkan untuk menemukan teori/ pengetahuan baru akan kebutuhan ruang dalam proses penciptaan dan penyajian seni tradisi. Pengetahuan tersebut diambil dari berbagai narasumber ahli di bidang seni dan tata ruang. Teknik wawancara dirasa sangat tepat untuk penelitian ini dalam menujang tokoh inti dalam bidang kesenian untuk memberikan masukan terhadap identifikasi kebutuhan ruang. Identifikasi kebutuhan ruang ini melalui proses dan sasaran yang dituju mengenai proses produksi dan promosi dalam seni pertunjukan. Setelah kegiatan tersebut diketahui, maka kebutuhan ruang diidentifikasi dari masing-masing kegiatan pada proses tersebut. Rumusan kebutuhan ruang dianalisis melalui beberapa teori terkait dengan analisis yang dilakukan pada tahap sebelumnya. Pengembangan dari sisi keruangan diikuti oleh pengembangan dari sisi sumber daya manusia dalam hal penyajian karya seni juga tidak kalah penting untuk diperhatikan. Sehingga diharapkan terciptanya generasi seniman yang berkulaitas baik disamping ketersediaan ruang yang diupayakan. Karena sesungguhnya keduanya akan selalu saling mempengaruhi. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi pertimbangan dalam aplikasi perencanaan tata ruang di wilayah yang mempunyai potensi seni budaya tradisional dengan tujuan mengembangakan potensi wisata budayanya.